Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Februari 2026

PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER KELISTRIKAN BODI SEPEDA MOTOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR (TBSM) SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA

 

PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER KELISTRIKAN BODI SEPEDA MOTOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR (TBSM) SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA

 

Skripsi

 

Diajukan Kepada Fakultas FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

 

Oleh:

FERRI ANGGRIAWAN

NIM. 2017006073

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN VOKASIONAL TEKNIK MESIN

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA

 

2024

 

Halaman Pengesahan

PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER KELISTRIKAN BODI SEPEDA MOTOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR (TBSM) SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA

 

Disetujui oleh Dosen pembimbing

Tanggal: ………………………….

 

 Pembimbing I

 

 

Sigit Purnomo, M.Pd.

NIDN: 0524029301

Pembimbing II

 

 

Alfat Khaharsyah, S.Pd., M.Pd.

NIDN:

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Dekan FKIP,

 

 

Dr. Siti Mariah, M.Pd.

NIDN. 005126508

 

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Tugas Akhir Skripsi dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana dengan judul “Pengaruh Penerapan Media Pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI Teknik Dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) SMK Tunas Wiyata Way Tuba” dapat tersusun dengan lancar.

Penulis menyadari penyusunan tugas akhir skripsi ini dapat terlaksan dari bantuan, dukungan, dorongan, semngat serta saran dan pendapat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1.     Dr. H. Pardimin, M.Pd., selaku Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang telah memberikan izin penelitian ini.

2.     Dr. Siti Mariah, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang telah memberikan izin sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

3.     Drs. Ir. Suparmin, M.T., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Pendidikan Vokasional Teknik Mesin Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan otivasi kepada penulis dalam penulisan proposal skripsi ini.

4.     Sigit Purnomo, M.Pd., Dosen Pembimbing I yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis dalam penulisan proposal skripsi ini.

5.     Alfat Khaharsyah, M.Pd., Dosen Pembimbing II yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis dalam penulisan proposal skripsi ini.

6.     Tisnawati, S.Pd., M.M., Kepala Sekolah SMK Tunas Wiyata Way Tuba yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian ini di sekolah tersebut.

7.     Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu demi satu, yang dengan caranya masing-masing telah berkontribusi dalam penelitian hingga penyusunan proposal skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini penulis berusaha semaksimal mungkin agar proposal skripsi ini dapat selesai dengan baik, tetapi sebagai manusia penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun kami harapkan untuk kesempurnaan proposal skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Yogyakarta, 20 Mei 2024

Peneliti

 

Ferri Anggriawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.     Latar belakang

Long Life Education, kalimat yang telah dikenal sejak dulu sampai saat ini, apalagi bagi pemerhati pendidikan. Pendidikan sepanjang hayat, itulah arti bebas dari kalimat tersebut. Pentingnya pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia telah menjadikannya salah satu kebutuhan pokok manusia. Manusia yang tak mempunyai pendidikan bagaikan makhluk yang raganya saja seperti manusia yang sudah meninggal (tidak berguna). Pendidikan umumnya berarti daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.

Dalam bukunya Ki Hadjar Dewantara (1977:14) Pendidikan nasional menurut paham Tamansiswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya (cultureel - national) dan ditunjukkan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajar negara dan rakyatnya, agar dapar bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Masih dalam buku yang sama, Ki Hadjar Dewantara (1977:15) menyebutkan Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak- anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setingi-tingginya. Oleh karena itu, haruslah diingat bahwa pendidikan hanya  suatu ”tuntunan” di  dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ini berarti, bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup jelas hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak tidak lain adalah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu, yang ada karena kekuasaan kodrat. Kaum pendidik hanya dapat menuntun  tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 yaitu,usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya, rumusan tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsan. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tidaklah mudah, banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan pencapaian tujuan pendidikan, maka dari itu hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab dunia pendidikan untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang baik, maka menjadi keharusan bagi pendidikan maupun pendidik untuk memahaminya sehingga tidak terjadi kesalahan dalam suatu pendidikan. Tanpa perumusan tujuan, guru tidak dapat merancang pelajaran, tidak bisa mengukur keberhasilan dari penyampaian pelajaran, dan sulit dalam mengorganisir kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut terdapat satuan pendidikan kejuruan yang termuat dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, bahwa Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri.

Salah satu dari banyaknya lembaga pendidikan formal di Indonesia, yang sekarang sedang berkembang pesat adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Definisi dari sekolah menengah kejuruan dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 BAB I pasal (1) ayat (3) yaitu Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Sesuai dengan UU Sidiknas No.20 Tahun 2003, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di dirikan dengan tujuan menyiapkan lulusan yang siap untuk melajutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memiliki keunggulan kompetensi untuk memasuki lapangan pekerjaan tingkat menengah di dunia usaha /industri.

Jadi SMK harus dapat memberikan bekal untuk lulusan, baik ilmu pengetahuan maupun keterampilan sehingga lulusan mampu untuk bersaing di dunia kerja, dunia pendidikan, maupun di dunia bisnis. Salah satu tujuan pendidikan kejuruan adalah menghasilkan lulusan yang berkompeten dan siap kerja, maka diperlukan pembelajaran yang berkualitas. Pendidikan menjadi tolak ukur dalam perkembangan bangsa, sehingga menjadi faktor penting penunjang suatu bangsa. Apabila suatu negara memiliki sistem Pendidikan yang buruk atau masih cacat, maka perlu diselesaikan penyebab permasalahan Pendidikan tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki banyak permasalahan Pendidikan yang ada.

Pada Data Pusat Statistik (BPS) per february 2024 umlah angkatan kerja menurut Sakernas mencapai 149,38 juta orang, naik sebanyak 2,76 juta orang dari tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,50 persen poin dibandingkan Februari 2023. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan yang sama mencapai 142,18 juta orang, meningkat 3,55 juta orang dari tahun sebelumnya, dengan sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum mengalami peningkatan terbesar sebesar 0,96 juta orang. Sekitar 58,05 juta orang atau 40,83 persen bekerja dalam kegiatan formal, naik 0,95 persen poin dari tahun sebelumnya. Persentase setengah pengangguran meningkat 1,61 persen poin, sementara pekerja paruh waktu mengalami penurunan sebesar 0,73 persen poin. Jumlah pekerja komuter pada Februari 2024 adalah 7,13 juta orang, mengalami penurunan 0,05 juta orang dari tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2024 turun menjadi 4,82 persen, mengalami penurunan sebesar 0,63 persen poin dari Februari 2023.

Tingkat pendidikan menjadi penanda kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Pada Februari 2024, mayoritas penduduk yang bekerja adalah tamatan SD ke bawah, mencapai 36,54 persen, sedangkan penduduk dengan pendidikan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3 hanya mencapai 12,67 persen. Distribusi penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan tetap sama dengan Februari 2023. Namun, terjadi penurunan pada penduduk berpendidikan SD ke bawah dan Sekolah Menengah Pertama, masing-masing sebesar 3,22 persen poin dan 0,09 persen poin, sementara penduduk dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Diploma I/II/III, dan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami peningkatan, dengan peningkatan terbesar pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas sebesar 1,37 persen poin. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator ketidakterserapan tenaga kerja oleh pasar kerja. Pada Februari 2024, TPT mencapai 4,82 persen, menunjukkan penurunan sebesar 0,63 persen poin dari Februari 2023. TPT pada laki-laki (4,96 persen) lebih tinggi daripada perempuan (4,60 persen) pada Februari 2024, dengan penurunan masing-masing sebesar 0,87 persen poin dan 0,26 persen poin dari Februari 2023. TPT di perkotaan (5,89 persen) jauh lebih tinggi dibandingkan di perdesaan (3,37 persen), meskipun keduanya mengalami penurunan dibandingkan Februari 2023. TPT tertinggi terdapat pada kelompok umur muda (15–24 tahun) sebesar 16,42 persen, sedangkan yang terendah pada kelompok umur tua (60 tahun ke atas) sebesar 1,14 persen, dengan pola yang sama seperti tahun sebelumnya. TPT pada tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih tertinggi (8,62 persen), sedangkan yang paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah (2,38 persen). Penurunan TPT terjadi pada hampir semua tingkat pendidikan, dengan penurunan terbesar pada tamatan Sekolah Menengah Pertama sebesar 1,13 persen poin, sementara lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami kenaikan TPT sebesar 0,11 persen poin dibandingkan Februari 2023.Top of Form               Dalam bukunya (Sutikno, 2013, p. 163) menyebutkan, Tingkat keberhasilan dalam pembelajaran Mata Pelajaran Pemeliharaan Listrik Sepeda Motor SMK Tamansiswa, dikatakan kurang berhasil dapat dilihat dari hasil ujian akhir semester yang mendapatkan nilai rata-rata 43,05 lalu juga nilai ujian yang dilaksanakan mendapatkan nilai rata-rata 61,93 yang mencapai kkm hanya tiga siswa, jika dihasilkan dengan persentase siswa yang mencapai KKM hanya 36% atau dibawah.

Berdasarkan kondisi tersebut penulis tertarik dalam konteks pendidikan teknik dan bisnis sepeda motor, penggunaan media pembelajaran yang efektif menjadi semakin penting untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa. Di SMK Tunas Wiyata Way Tuba, kelas XI Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) dihadapkan pada tantangan memahami konsep kelistrikan bodi sepeda motor yang kompleks. Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, penggunaan media pembelajaran seperti "Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor" menjadi alternatif yang menarik. Namun, belum ada penelitian yang secara khusus mengeksplorasi pengaruh penerapan media pembelajaran ini terhadap hasil belajar siswa di lingkungan ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut dengan mengevaluasi dampak penggunaan media pembelajaran "Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor" terhadap hasil belajar siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba.

 

2.     Identifikasi masalah

Berdarkan permayalahan yang dirumuskan diatas, tujuan penulisan ini yaitu:

A.    Kesenjangan antara metode pembelajaran dan Kebutuhan Siswa

B.    Keterbatsan Akses terhadap materi dan praktikum

 

3.     Pembatasan masalah

              Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan diatas peneliti membatasi pemasalahan sebagai berikut:

A.    Kontek sekolah dan siswa

B.    Waktu dan sumber daya

Penelitian ini dibatasi pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik dan Bisnis sepeda motor (TBSM) di SMK Tunas Wiyata Way Tuba. Hal ini berarti hasis dari penelitian ini mungkin tidak dapat langsung diterapkan pada konteks sekolah atau program keahlian yang berbeda. Variabel-variabel tertentu seperti Tingkat keterampilan siswa, keahlian guru, dan kurikulum yang berlaku disekolah tersebut dapat mempengaruhi generalisai hasil.

Dan penelitian ini mungkin terbatas oleh waktu dan sumber daya yang tersedia, pelaksanaan penelitian yang terbatas secara waktu dan anggaran dapat membatasi ukuran sampel, jangka waktu pengamatan, atau kedalaman analisis yang mungkin dilakukan. Pembatasan ini harus diakui dalam interpretasi dan generalisasi temuan.

 

4.     Rumusan masalah

Berikut rumusan masalah yang relevan untuk penelitian terssebut:

A.    Bagaimana pengaruh penerapan media Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda motor terhada peningkatan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas XI program keahlian Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) di SMK Tunas Wiyata Way Tuba?

B.    Sejauh mana efektivitas penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor dapat dibuktikan dalam meningkatkan kemampuan praktis dan penguasaan konsep kelistrikan bodi sepeda motor siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba?

Rumusan masalah tersebut dapat memberikan arah yang jelas untuk penelitian, fokus pada dampak penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor terhadap hasil belajar siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba.

 

5.     Tujuan Penelitian

Berikut adalah tujuan penelitian terkait masalah tersebut:

A.    Menilai Tingkat efektifitas pengguanaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor (TBSM) Di SMK Tunas Wiyata Way Tuba. Tujuan ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana media pembelajaran ini mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pemahaman konsep kelistrikan bodi sepeda motor serta pencapaian akademis siswa.

B.    Mengevaluasi dampak penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor terhadap kemampuan praktis siswa dalam menerapkan konsep-konsep kelistrikan bodi sepeda motor di dunia nyata. Tujuan ini akan mengukur sejauh mana penggunaan media pembelajaran ini dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dengan bidang teknik dan bisnis sepeda motor, yang dapat diaplikasikan dalam konteks industri atau pekerjaan di masa depan.

 

6.     Manfaat penelitian

A.    Manfaat teoritis

1)     Bagi Siswa

Peningkatan Pemahaman: Siswa akan mendapatkan manfaat langsung dalam pemahaman mereka terhadap materi kelistrikan bodi sepeda motor melalui penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan visual. Pengembangan Keterampilan Praktis: Siswa akan dapat mengembangkan keterampilan praktis dalam menerapkan konsep-konsep yang dipelajari, mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja. Motivasi dan Minat Belajar yang Tinggi: Penggunaan media pembelajaran yang menarik dan interaktif dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran kelistrikan bodi sepeda motor.

 

2)     Bagi guru

Peningkatan Efektivitas Pengajaran: Guru dapat menggunakan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor untuk meningkatkan efektivitas pengajaran mereka, dengan memanfaatkan alat bantu yang interaktif dan mendukung. Dukungan dalam Pengembangan Kurikulum: Temuan dari penelitian ini dapat memberikan dasar yang kuat bagi guru untuk mengusulkan pengembangan kurikulum yang lebih responsif dan sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan teknologi.

 

3)     Bagi sekolah

   Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Sekolah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas khususnya dalam mata pelajaran kelistrikan bodi sepeda motor, yang dapat mencerminkan positif pada prestasi akademik siswa. Peningkatan Daya Saing Sekolah: Dengan memperkenalkan metode pembelajaran inovatif seperti penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor, sekolah dapat meningkatkan daya tariknya bagi calon siswa dan meningkatkan reputasi sebagai lembaga yang progresif dan modern.

B.    Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat memberikan pandangan yang lebih terinci tentang potensi penggunaan media pembelajaran "Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor" dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis yang signifikan, memungkinkan guru dan staf pengajar untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif serta menyempurnakan kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan belajar siswa di bidang teknik dan bisnis sepeda motor.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PERNYATAAN PENELITIAN

1.     Kajian Teori

A.    Belajar Dan Mengajar

1)     Pengertian belajar

Belajar merupakan sesuatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh pengalaman sehingga terdapat perubahan tingkah laku paa dirinya. Menurut Slameto (2013:02) bahwa “Belajar adalah ssuatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Adapun menurut Daryanto (2013:02) “Belajar ialah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.

Menurut Hamalik (2015: 87) “belajar merupakan modifikasi atau memeperteguh kelakuan melalui pengalaman. Berdasarkan pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, yakni mengalami. Hasl belajar bukan suatu penguasaa hasil latihan melaikan pengubahan kelakuan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, bukan hanya mengingat tapi mengalami dan lebih mengutamakan perubahan perilaku baik pengetahuan, latihan, dan sikap yang merupakan hasil interaksi individu dengan linkngannya.

 

2)     Ciri-ciri belajar

Ciri-ciri belajar menurut Djamarah (2011:15-16) adalah sebagai berikut:

a)     Perubahan yang terjadi secara sadar

b)     Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

c)     Perubhan dalam belajar bersifat positif dan aktif

d)     Perubhan dalam belajar bukan bersifat sementara

e)     Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah

f)      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Sedangkan menurut Syah (2015: 114) ciri-ciri perubahan Khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yaitu :

a)     Perubahan itu intensional

b)     Perubahan itu positif dan aktif

c)     Perubahan itu efektif dan fungsional

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan dalam belajar merupakan proses terencana, aktif, positif, dan berkelnjutan, serta melibatkan selruh aspek tingah laku.

 

3)     Mengajar

Menurut sardiman (2007:47) mengajar merupakan menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Dalam pengertian yang lebih luas mengajar adalah aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dengan menghubungkan dengan anak sehigga terjadi proses belajar. Menurut Dr. Keller dalam Hamalik (2015 : 50) mengajar kegiatan mempersiapkan siswa menjadi Warga negara yang baik sesuatu tuntutan masyarakat. Pendapat lain mengajar adalah memebantu siswa menghadapi kehidupan sehari hari. Implikasi dari rumusan ini adalah tujuan pendidikan adalah mepersiapkan siswa hidup di masyarakat, kegiatan berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat, anak-anak bekerja secara aktif dan tugas guru sebagai komunikator.

Berdasarkan ahli diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu aktifitas yang melibatkan penyampain pengetahuan kepada anak didik, baik dalam konteks pengorganisasian lingkungan pembelajaran maupun persiapan siswa untuk menjadi warga negara yang baik dan menghadapi kehidupan sehari-hari. Implikasinya tujuan pendidikan adala untuk mempersiapkan siswa agar dapat hidup di myarakat, dengan guru bertindak sebagai fasilitator dlam proses pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antara siswa, guru dan lingkungan sekitarnya.

 

4)     Pembelajaran

Menurut huda (2015: 5), pembelajaran dapat diartikan sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan levelnya. Selama proses ini, seseorang bisa memilih untuk melakukan perubahan atau tidak sama sekali terhadap apa yang ia lakukan. Ketika pembelajaran diartikan sebagai perubahan dalam perilaku, tindkan, cara dan performa maka kosenkuensinya jelas. Pembelajaran merefleksikan pengetahuan konseptual yang digunakan secara luas dan memiliki banyak makna yang berbeda-beda.

Berikut ini konsep mengenai pembelajaran yang sering menjadi fokus riset dan studi yaitu:

a)     Pembelajaran bersifat psikologis. Pembelajaran dideskripsikan dengan merujuk pada apa yang terjadi dalam diri manusia secara psikologis. Ketika pola perilakunya stabil, Maka proses pembelajaran yang dikataka berhasil.

b)     Pembelajaran merupakan proses interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Dan

c)     Pembelajaran merupakan produk dari lingkungan eksperimental seseorang , terkait bagaimana ia merespon lingkuangan tersebut.

B.    Pengaruh Penerapan

 

C.    Media Pembelajaran

1)     Pengertian media pembelajaran

2)     Tujuan dan manfaat media pembelajaran

3)     Ciri-ciri media pembelajaran

 

D.    Hasil Belajar

1)     Pengertian Hasil Belajar

2)     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

E.     Kelistrikan Bodi Sepeda Motor

1)     Pengetahuan Dasar Sistem Kelistrikan

2)     Sistem Penerangan Pada Sepeda Motor

3)     Pemeliharaan Sistem Penerangan Sepeda Motor

2.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar