PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER
KELISTRIKAN BODI SEPEDA MOTOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TEKNIK DAN
BISNIS SEPEDA MOTOR (TBSM) SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas FKIP Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
FERRI ANGGRIAWAN
NIM. 2017006073
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN VOKASIONAL TEKNIK MESIN
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA
2024
Halaman Pengesahan
PENGARUH PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER
KELISTRIKAN BODI SEPEDA MOTOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TEKNIK DAN
BISNIS SEPEDA MOTOR (TBSM) SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA
Disetujui oleh Dosen pembimbing
Tanggal: ………………………….
|
Sigit
Purnomo, M.Pd. NIDN: 0524029301 |
Pembimbing II Alfat
Khaharsyah, S.Pd., M.Pd. NIDN: |
Mengetahui,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Dekan FKIP,
Dr. Siti Mariah, M.Pd.
NIDN. 005126508
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat allah SWT yang
telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Tugas Akhir Skripsi
dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana
dengan judul “Pengaruh Penerapan Media Pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi
Sepeda Motor Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI Teknik Dan Bisnis Sepeda
Motor (TBSM) SMK Tunas Wiyata Way Tuba” dapat tersusun dengan lancar.
Penulis
menyadari penyusunan tugas akhir skripsi ini dapat terlaksan dari bantuan,
dukungan, dorongan, semngat serta saran dan pendapat dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan kali ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada yang terhormat:
1. Dr. H. Pardimin, M.Pd., selaku
Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang
telah memberikan izin penelitian ini.
2. Dr. Siti Mariah, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang
telah memberikan izin sehingga penelitian ini dapat terlaksana.
3. Drs. Ir. Suparmin, M.T., selaku
Ketua Program Studi Pendidikan Pendidikan Vokasional Teknik Mesin Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang
telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan otivasi kepada penulis
dalam penulisan proposal skripsi ini.
4.
Sigit
Purnomo, M.Pd., Dosen
Pembimbing I yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi
kepada penulis dalam penulisan proposal skripsi ini.
5.
Alfat
Khaharsyah, M.Pd., Dosen Pembimbing II yang telah dengan
sabar memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis dalam penulisan
proposal skripsi ini.
6.
Tisnawati, S.Pd., M.M., Kepala Sekolah SMK Tunas Wiyata Way Tuba
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian ini di
sekolah tersebut.
7.
Semua pihak yang tidak
bisa disebutkan satu demi satu, yang dengan caranya masing-masing telah
berkontribusi dalam penelitian hingga penyusunan proposal skripsi ini.
Dalam penulisan skripsi ini penulis
berusaha semaksimal mungkin agar proposal skripsi ini dapat selesai dengan
baik, tetapi sebagai manusia penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh
dari sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun kami harapkan
untuk kesempurnaan proposal skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
para pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Yogyakarta, 20 Mei 2024
Peneliti
Ferri Anggriawan
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
belakang
Long
Life Education, kalimat
yang telah dikenal sejak dulu sampai saat ini, apalagi bagi pemerhati
pendidikan. Pendidikan sepanjang hayat, itulah arti bebas dari kalimat
tersebut. Pentingnya pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia telah
menjadikannya salah satu kebutuhan pokok manusia. Manusia yang tak mempunyai
pendidikan bagaikan makhluk yang raganya saja seperti manusia yang sudah
meninggal (tidak berguna). Pendidikan umumnya berarti daya-upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelect)
dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan
bagian-bagian itu, supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni
kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
Dalam
bukunya Ki Hadjar Dewantara (1977:14) Pendidikan
nasional menurut paham Tamansiswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup
dari bangsanya (cultureel - national) dan ditunjukkan untuk keperluan
perikehidupan yang dapat mengangkat derajar negara dan rakyatnya, agar dapar
bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di
seluruh dunia. Masih dalam buku yang sama, Ki Hadjar Dewantara (1977:15)
menyebutkan Pendidikan yaitu tuntutan
di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan adalah menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak- anak itu agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setingi-tingginya. Oleh karena itu, haruslah diingat bahwa pendidikan
hanya suatu ”tuntunan” di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ini berarti,
bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak
kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda
hidup jelas hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kekuatan kodrati yang
ada pada anak-anak tidak lain adalah segala kekuatan di dalam hidup batin dan
hidup lahir dari anak-anak itu, yang ada karena kekuasaan kodrat. Kaum pendidik
hanya dapat menuntun tumbuhnya atau
hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya)
hidup dan tumbuhnya itu.
Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal
1 yaitu,usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20
Tahun 2003 Pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan
pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya,
rumusan tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsan. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tidaklah
mudah, banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan pencapaian tujuan
pendidikan, maka dari itu hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab dunia
pendidikan untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang baik, maka menjadi
keharusan bagi pendidikan maupun pendidik untuk memahaminya sehingga tidak
terjadi kesalahan dalam suatu pendidikan. Tanpa perumusan tujuan, guru tidak
dapat merancang pelajaran, tidak bisa mengukur keberhasilan dari penyampaian
pelajaran, dan sulit dalam mengorganisir kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan
pengajaran.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional tersebut terdapat satuan pendidikan kejuruan yang termuat dalam
Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah, bahwa Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta
didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta
mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang
tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan
teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai
dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri.
Salah satu dari banyaknya lembaga
pendidikan formal di Indonesia, yang sekarang sedang berkembang pesat adalah
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Definisi dari sekolah menengah kejuruan
dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 BAB I pasal (1) ayat
(3) yaitu Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang
pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk
melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Sesuai dengan UU Sidiknas No.20 Tahun
2003, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di dirikan dengan tujuan menyiapkan
lulusan yang siap untuk melajutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan
memiliki keunggulan kompetensi untuk memasuki lapangan pekerjaan tingkat
menengah di dunia usaha /industri.
Jadi SMK harus dapat memberikan bekal
untuk lulusan, baik ilmu pengetahuan maupun keterampilan sehingga lulusan mampu
untuk bersaing di dunia kerja, dunia pendidikan, maupun di dunia bisnis. Salah
satu tujuan pendidikan kejuruan adalah menghasilkan lulusan yang berkompeten dan
siap kerja, maka diperlukan pembelajaran yang berkualitas. Pendidikan menjadi
tolak ukur dalam perkembangan bangsa, sehingga menjadi faktor penting penunjang
suatu bangsa. Apabila suatu negara memiliki sistem Pendidikan yang buruk atau
masih cacat, maka perlu diselesaikan penyebab permasalahan Pendidikan tersebut.
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki banyak permasalahan Pendidikan
yang ada.
Pada Data
Pusat Statistik (BPS) per february 2024 umlah angkatan kerja
menurut Sakernas mencapai 149,38 juta orang, naik sebanyak 2,76 juta orang dari
tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,50
persen poin dibandingkan Februari 2023. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan
yang sama mencapai 142,18 juta orang, meningkat 3,55 juta orang dari tahun
sebelumnya, dengan sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum
mengalami peningkatan terbesar sebesar 0,96 juta orang. Sekitar 58,05 juta
orang atau 40,83 persen bekerja dalam kegiatan formal, naik 0,95 persen poin
dari tahun sebelumnya. Persentase setengah pengangguran meningkat 1,61 persen
poin, sementara pekerja paruh waktu mengalami penurunan sebesar 0,73 persen poin.
Jumlah pekerja komuter pada Februari 2024 adalah 7,13 juta orang, mengalami
penurunan 0,05 juta orang dari tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) pada Februari 2024 turun menjadi 4,82 persen, mengalami penurunan sebesar
0,63 persen poin dari Februari 2023.
Tingkat pendidikan menjadi penanda kualitas dan produktivitas tenaga
kerja. Pada Februari 2024, mayoritas penduduk yang bekerja adalah tamatan SD ke
bawah, mencapai 36,54 persen, sedangkan penduduk dengan pendidikan Diploma
I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3 hanya mencapai 12,67 persen. Distribusi
penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan tetap sama dengan Februari 2023.
Namun, terjadi penurunan pada penduduk berpendidikan SD ke bawah dan Sekolah
Menengah Pertama, masing-masing sebesar 3,22 persen poin dan 0,09 persen poin,
sementara penduduk dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas, Sekolah
Menengah Kejuruan, Diploma I/II/III, dan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami
peningkatan, dengan peningkatan terbesar pada tingkat pendidikan Sekolah
Menengah Atas sebesar 1,37 persen poin. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
merupakan indikator ketidakterserapan tenaga kerja oleh pasar kerja. Pada
Februari 2024, TPT mencapai 4,82 persen, menunjukkan penurunan sebesar 0,63
persen poin dari Februari 2023. TPT pada laki-laki (4,96 persen) lebih tinggi
daripada perempuan (4,60 persen) pada Februari 2024, dengan penurunan
masing-masing sebesar 0,87 persen poin dan 0,26 persen poin dari Februari 2023.
TPT di perkotaan (5,89 persen) jauh lebih tinggi dibandingkan di perdesaan
(3,37 persen), meskipun keduanya mengalami penurunan dibandingkan Februari
2023. TPT tertinggi terdapat pada kelompok umur muda (15–24 tahun) sebesar
16,42 persen, sedangkan yang terendah pada kelompok umur tua (60 tahun ke atas)
sebesar 1,14 persen, dengan pola yang sama seperti tahun sebelumnya. TPT pada
tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih tertinggi (8,62 persen), sedangkan yang
paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah (2,38 persen). Penurunan TPT
terjadi pada hampir semua tingkat pendidikan, dengan penurunan terbesar pada
tamatan Sekolah Menengah Pertama sebesar 1,13 persen poin, sementara lulusan
Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami kenaikan TPT sebesar 0,11 persen poin
dibandingkan Februari 2023. Dalam
bukunya (Sutikno, 2013, p. 163) menyebutkan, Tingkat keberhasilan dalam
pembelajaran Mata Pelajaran
Pemeliharaan Listrik Sepeda Motor SMK Tamansiswa, dikatakan
kurang berhasil dapat dilihat dari hasil ujian akhir semester yang mendapatkan
nilai rata-rata 43,05 lalu juga nilai ujian yang dilaksanakan mendapatkan nilai
rata-rata 61,93 yang mencapai kkm hanya tiga siswa, jika dihasilkan dengan
persentase siswa yang mencapai KKM hanya 36% atau dibawah.
Berdasarkan kondisi tersebut penulis tertarik dalam
konteks pendidikan teknik dan bisnis sepeda motor, penggunaan media
pembelajaran yang efektif menjadi semakin penting untuk meningkatkan pemahaman
dan keterampilan siswa. Di SMK Tunas Wiyata Way Tuba, kelas XI Teknik dan
Bisnis Sepeda Motor (TBSM) dihadapkan pada tantangan memahami konsep
kelistrikan bodi sepeda motor yang kompleks. Dalam upaya meningkatkan hasil
belajar siswa, penggunaan media pembelajaran seperti "Trainer Kelistrikan
Bodi Sepeda Motor" menjadi alternatif yang menarik. Namun, belum ada
penelitian yang secara khusus mengeksplorasi pengaruh penerapan media
pembelajaran ini terhadap hasil belajar siswa di lingkungan ini. Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut
dengan mengevaluasi dampak penggunaan media pembelajaran "Trainer
Kelistrikan Bodi Sepeda Motor" terhadap hasil belajar siswa kelas XI TBSM
di SMK Tunas Wiyata Way Tuba.
2.
Identifikasi
masalah
Berdarkan
permayalahan yang dirumuskan diatas, tujuan penulisan ini yaitu:
A.
Kesenjangan
antara metode pembelajaran dan Kebutuhan Siswa
B.
Keterbatsan
Akses terhadap materi dan praktikum
3.
Pembatasan
masalah
Berdasarkan permasalahan
yang dirumuskan diatas peneliti membatasi pemasalahan sebagai berikut:
A.
Kontek
sekolah dan siswa
B.
Waktu
dan sumber daya
Penelitian ini dibatasi pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik dan
Bisnis sepeda motor (TBSM) di SMK Tunas Wiyata Way Tuba. Hal ini berarti hasis
dari penelitian ini mungkin tidak dapat langsung diterapkan pada konteks
sekolah atau program keahlian yang berbeda. Variabel-variabel tertentu seperti
Tingkat keterampilan siswa, keahlian guru, dan kurikulum yang berlaku disekolah
tersebut dapat mempengaruhi generalisai hasil.
Dan penelitian ini mungkin terbatas oleh waktu dan sumber daya yang
tersedia, pelaksanaan penelitian yang terbatas secara waktu dan anggaran dapat
membatasi ukuran sampel, jangka waktu pengamatan, atau kedalaman analisis yang
mungkin dilakukan. Pembatasan ini harus diakui dalam interpretasi dan
generalisasi temuan.
4.
Rumusan
masalah
Berikut rumusan masalah yang relevan untuk penelitian terssebut:
A.
Bagaimana
pengaruh penerapan media Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda motor terhada peningkatan
pemahaman dan hasil belajar siswa kelas XI program keahlian Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM)
di SMK Tunas Wiyata Way Tuba?
B.
Sejauh
mana efektivitas penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda
Motor dapat dibuktikan dalam meningkatkan kemampuan praktis dan penguasaan
konsep kelistrikan bodi sepeda motor siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata
Way Tuba?
Rumusan
masalah tersebut dapat memberikan arah yang jelas untuk penelitian, fokus pada
dampak penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor
terhadap hasil belajar siswa kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba.
5.
Tujuan
Penelitian
Berikut adalah
tujuan penelitian terkait masalah tersebut:
A.
Menilai
Tingkat efektifitas pengguanaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi
Sepeda Motor (TBSM) Di SMK Tunas Wiyata Way Tuba. Tujuan ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh
mana media pembelajaran ini mampu memberikan kontribusi positif terhadap
peningkatan pemahaman konsep kelistrikan bodi sepeda motor serta pencapaian
akademis siswa.
B.
Mengevaluasi
dampak penggunaan media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor
terhadap kemampuan praktis siswa dalam menerapkan konsep-konsep kelistrikan
bodi sepeda motor di dunia nyata. Tujuan ini akan mengukur sejauh mana
penggunaan media pembelajaran ini dapat membantu siswa mengembangkan
keterampilan praktis yang relevan dengan bidang teknik dan bisnis sepeda motor,
yang dapat diaplikasikan dalam konteks industri atau pekerjaan di masa depan.
6.
Manfaat
penelitian
A.
Manfaat
teoritis
1)
Bagi
Siswa
Peningkatan Pemahaman: Siswa akan mendapatkan manfaat langsung dalam
pemahaman mereka terhadap materi kelistrikan bodi sepeda motor melalui
penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan visual. Pengembangan
Keterampilan Praktis: Siswa akan dapat mengembangkan keterampilan praktis dalam
menerapkan konsep-konsep yang dipelajari, mempersiapkan mereka untuk memasuki
dunia kerja. Motivasi dan Minat Belajar yang Tinggi: Penggunaan media
pembelajaran yang menarik dan interaktif dapat meningkatkan motivasi dan minat
siswa terhadap pembelajaran kelistrikan bodi sepeda motor.
2)
Bagi
guru
Peningkatan Efektivitas Pengajaran: Guru dapat menggunakan media
pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor untuk meningkatkan
efektivitas pengajaran mereka, dengan memanfaatkan alat bantu yang interaktif
dan mendukung. Dukungan dalam Pengembangan Kurikulum: Temuan dari penelitian
ini dapat memberikan dasar yang kuat bagi guru untuk mengusulkan pengembangan
kurikulum yang lebih responsif dan sesuai dengan kebutuhan siswa dan
perkembangan teknologi.
3)
Bagi
sekolah
Peningkatan Kualitas
Pembelajaran: Sekolah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas
khususnya dalam mata pelajaran kelistrikan bodi sepeda motor, yang dapat
mencerminkan positif pada prestasi akademik siswa. Peningkatan Daya Saing
Sekolah: Dengan memperkenalkan metode pembelajaran inovatif seperti penggunaan
media pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor, sekolah dapat
meningkatkan daya tariknya bagi calon siswa dan meningkatkan reputasi sebagai
lembaga yang progresif dan modern.
B.
Manfaat
Praktis
Penelitian ini dapat
memberikan pandangan yang lebih terinci tentang potensi penggunaan media
pembelajaran "Trainer Kelistrikan Bodi Sepeda Motor" dalam
meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa kelas XI TBSM di SMK
Tunas Wiyata Way Tuba. Hasil penelitian ini memiliki implikasi
praktis yang signifikan, memungkinkan guru dan staf pengajar untuk
mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif serta menyempurnakan
kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan belajar siswa di bidang teknik dan
bisnis sepeda motor.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PERNYATAAN PENELITIAN
1.
Kajian
Teori
A.
Belajar
Dan Mengajar
1)
Pengertian
belajar
Belajar
merupakan sesuatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang
sepanjang hidupnya. Belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh
pengalaman sehingga terdapat perubahan tingkah laku paa dirinya. Menurut
Slameto (2013:02) bahwa “Belajar adalah ssuatu proses usaha yang dilakukan
sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan”. Adapun menurut Daryanto (2013:02) “Belajar ialah proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan.
Menurut
Hamalik (2015: 87) “belajar merupakan modifikasi atau memeperteguh kelakuan
melalui pengalaman. Berdasarkan pengertian ini belajar merupakan suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, yakni mengalami. Hasl belajar bukan suatu penguasaa hasil latihan
melaikan pengubahan kelakuan.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses, suatu
kegiatan, bukan hanya mengingat tapi mengalami dan lebih mengutamakan perubahan
perilaku baik pengetahuan, latihan, dan sikap yang merupakan hasil interaksi
individu dengan linkngannya.
2)
Ciri-ciri
belajar
Ciri-ciri belajar menurut Djamarah (2011:15-16) adalah
sebagai berikut:
a)
Perubahan
yang terjadi secara sadar
b)
Perubahan
dalam belajar bersifat fungsional
c)
Perubhan
dalam belajar bersifat positif dan aktif
d)
Perubhan
dalam belajar bukan bersifat sementara
e)
Perubahan
dalam belajar bertujuan dan terarah
f)
Perubahan
mencakup seluruh aspek tingkah laku
Sedangkan menurut Syah (2015: 114) ciri-ciri perubahan
Khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yaitu :
a)
Perubahan
itu intensional
b)
Perubahan
itu positif dan aktif
c)
Perubahan
itu efektif dan fungsional
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
perubahan dalam belajar merupakan proses terencana, aktif, positif, dan
berkelnjutan, serta melibatkan selruh aspek tingah laku.
3)
Mengajar
Menurut sardiman (2007:47) mengajar merupakan
menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Dalam pengertian yang lebih luas
mengajar adalah aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya
dengan menghubungkan dengan anak sehigga terjadi proses belajar. Menurut Dr.
Keller dalam Hamalik (2015 : 50) mengajar kegiatan mempersiapkan siswa menjadi
Warga negara yang baik sesuatu tuntutan masyarakat. Pendapat lain mengajar
adalah memebantu siswa menghadapi kehidupan sehari hari. Implikasi dari rumusan
ini adalah tujuan pendidikan adalah mepersiapkan siswa hidup di masyarakat,
kegiatan berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat, anak-anak bekerja
secara aktif dan tugas guru sebagai komunikator.
Berdasarkan ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
mengajar merupakan suatu aktifitas yang melibatkan penyampain pengetahuan
kepada anak didik, baik dalam konteks pengorganisasian lingkungan pembelajaran
maupun persiapan siswa untuk menjadi warga negara yang baik dan menghadapi
kehidupan sehari-hari. Implikasinya tujuan pendidikan adala untuk mempersiapkan
siswa agar dapat hidup di myarakat, dengan guru bertindak sebagai fasilitator
dlam proses pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antara siswa, guru dan
lingkungan sekitarnya.
4)
Pembelajaran
Menurut huda (2015: 5), pembelajaran dapat diartikan
sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan
ditingkatkan levelnya. Selama proses ini, seseorang bisa memilih untuk
melakukan perubahan atau tidak sama sekali terhadap apa yang ia lakukan. Ketika
pembelajaran diartikan sebagai perubahan dalam perilaku, tindkan, cara dan
performa maka kosenkuensinya jelas. Pembelajaran merefleksikan pengetahuan
konseptual yang digunakan secara luas dan memiliki banyak makna yang
berbeda-beda.
Berikut ini konsep mengenai pembelajaran yang sering
menjadi fokus riset dan studi yaitu:
a)
Pembelajaran
bersifat psikologis. Pembelajaran dideskripsikan dengan merujuk pada apa yang
terjadi dalam diri manusia secara psikologis. Ketika pola perilakunya stabil,
Maka proses pembelajaran yang dikataka berhasil.
b)
Pembelajaran
merupakan proses interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Dan
c)
Pembelajaran
merupakan produk dari lingkungan eksperimental seseorang , terkait bagaimana ia
merespon lingkuangan tersebut.
B.
Pengaruh
Penerapan
C.
Media
Pembelajaran
1)
Pengertian
media pembelajaran
2)
Tujuan
dan manfaat media pembelajaran
3)
Ciri-ciri
media pembelajaran
D.
Hasil
Belajar
1)
Pengertian
Hasil Belajar
2)
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
E.
Kelistrikan
Bodi Sepeda Motor
1)
Pengetahuan
Dasar Sistem Kelistrikan
2)
Sistem
Penerangan Pada Sepeda Motor
3)
Pemeliharaan
Sistem Penerangan Sepeda Motor
2.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar