PADA MASA PANDEMI COVID-19
DI SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA

Oleh:
Nama : Ferri Anggriawan
NIM : 2017006073
Kelompok : 7
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN VOKASIONAL TEKNIK MESIN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2020
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN MAGANG III
PADA MASA PANDEMI COVID-19
Tempat Magang III : SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA
Waktu Pelaksanaan : 4 September 2020 sampai dengan 30 Oktober 2020
Telah diterima dan disahkan
Yogyakarta, 4 Desember 2020
|
Ferri Anggriawan NIM. 20170006073 |
Menyetujui,
|
Kepala Sekolah
Tisnawati, S.Pd., M.M.,
|
DPL,
Drs. Ir. Suparmin, M.T. NIDN.007055910 |
Mengetahui,
|
Koordinator Magang,
Nanang Bagus Subekti, S.Pd., M.Ed. NIDN. 0508067702 |
Dekan FKIP UST,
Dr. Rosidah Aliim Hidayat, M.Pd. NIDN. 0504108501 |
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta senantiasa memberi kesempatan kepada kami dalam menyelesaikan laporan Magang III dengan baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Magang III bagi para mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Dalam proses pelaksanaan magang, tentunya tidak terlepas dari pihak-pihak yang mendukung, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, rasa terima kasih saya ucapkan kepada:
1. Dr. H. Pardimin, M.Pd., selaku Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta;
2. Nanang Bagus Subekti, S.Pd., M.Ed., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta;
3. Drs. Ir. Suparmin, M.T., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Pendidikan Vokasional Teknik Mesin Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta;
4. Rosidah Aliim Hidayat, M.Pd., selaku Koordinator Magang III Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta;
5. Drs. Ir. Suparmin, M.T., selaku Dosen Pembimbing Magang yang telah mendampingi dan membimbing penulis selama melaksanakan Magang III;
6. Tisnawati, S.Pd., M.M., selaku Kepala Sekolah SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA yang telah memberikan kesempatan serta membimbing penulis untuk melaksanakan magang III di SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA;
7. Bapak/Ibu guru serta Karyawan SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA yang telah membantu dan membimbing penulis untuk melaksanakan magang III di SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA;
8. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, yang telah memberikan bantuan, do’a serta dukungannya yang berhubungan dengan pelaksanaan
magang III.
Penyusunan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga masih banyakkesalahan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk menjadikan laporan ini menjadi lebih baik dan menjadi lebih baik dan menjadi pedoman untuk penyusunan laporan selanjutnya.
Yogyakarta, 4 Desember 2020
Penyusun,
DAFTAR ISI
BAB II PROFIL TEMPAT MAGANG III
B. Struktur Organisasi Tempat Magang III
A. Praktik Pelaksanaan Pembelajaran
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Rencana Magang III ..................................................................... 19
Lampiran 2 Catatan Harian Mahasiswa Magang III ........................................ 21
Lampiran 3 Surat Permohonan Tempat Magang III ......................................... 23
Lampiran 4 Surat Pemberian Izin Sekolah ........................................................ 25
Lampiran 5 Surat UcapanTerimakasih ..................................................................
Lampiran 6 Surat Keterangan .....................................................................
Lampiran 7 RPP 1........................................................................................
Lampiran 8 RPP 2..................................................................................................
Lampiran 9 RPP 3 &4 ...........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pandemi Covid-19 berdampak pada segala aspek kehidupan termasuk pendidikan. Pengaruhnya di bidang pendidikan khususnya pada lembaga pendidikan guru, FKIP UST melakukan adaptasi dalam menyiapkan lulusannya untuk menjadi calon guru yang profesional.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan berkewajiban membekali lulusannya untuk menjadi seorang calon guru profesional dan mampu beradaptasi dalam segala kegiatan pendiikan. Era saat ini merupakan era yang dijuluki dengan “Adaptasi Kebiasaan Baru”. Era tersebut merupakan suatu era yang merupakan dampak dari pendemi Covid-19 berdampak pada segala aspek kehidupan termasuk pendidikan. Pengaruhnya di bidang pendidikan khususnya pada lembaga pendidikan guru, FKIP UST perlu melakukan adaptasi dalam menyiapkan lulusannya untuk menjadi calon guru profesinal yang dimaksudkan tersebut.
Berdasarkan siaran pers yang dilakukan Kemendikbud Nomor: 137/sipres/A6/VI/2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 pembelajaran untuk Perguruan Tinggi (PT) dilaksanakan secara daring. Hal tersebut menjadi pertimbangan FKIP UST dalam pelaksanaan perkuliahan Magang III. Periode semester gasal tahun ajaran 2020/2021, FKIP UST menerapkan skenario khusus dalam perkuliahan magang III. Skenario khusus ini diwujudkan sebagai bentuk adaptasi dengan “Adaptasi Kebiasaan baru”.
Pada masa “Adaptasi Kebiasaan Baru” pelaksanaan magang III di FKIP UST disamping dalam rangka menyiapkan calon guru profesional juga memprioritaskan kesehatan dan keselamatan mahasiswa, peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan magang III pada masa ini terdapat dua skema, pertama, pelaksanaan magang III yang berkolaborasi dengan orangtua yang pelaksanaannya di rumah (bisa mahasiswa atau di rumah siswa). Dari dua skema itu, mahasiswa dapat memilih salah satu skema sesuai dengan kondisi yang ada di daerahnya masing-masing.
1. Pengertian
Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu jenjang pendidikan menengah dengan kekhususan mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja. Pendidikan kejuruan mempunyai arti yang bervariasi namun dapat dilihat suatu benang merahnya. Menurut Evans dalam Djojonegoro (1999) mendefinisikan bahwa pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya. Dengan pengertian bahwa setiap bidang studi adalah pendidikan kejuruan sepanjang bidang studi tersebut dipelajari lebih mendalam dan kedalaman tersebut dimaksudkan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Adapun SMK di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu sekolah dasar negeri dan SMK swasta. SMK negeri merupakan sekolah yang dikelola langsung oleh pemerintah, sedangkan SMK swasta merupakan sekolah yang didirikan sekaligus dikelola oleh pihak yayasan.
Guru dalam sekolah adalah salah satu unsur penting yang harus ada sesudah siswa. Apabila seorang guru tidak mempunyai sikap profesional, maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini karena guru adalah salah satu tumpuan bagi negara dalam hal pendidikan. Dengan adanya guru profesional dan berkualitas maka mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula. Kunci yang harus dimiliki oleh setiap pengajar adalah kompetensi. Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Magang III merupakan salah satu mata kuliah kependidikan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa S-1 FKIP UST untuk mendapatkan gelar sarjana Pendidikan, dengan capaian pembelajaran magang III adalah mampu menyusun RPP daring berbasis TIK sesuai dengan bidang keahliannya serta mampu melaksanakan pembelajaran terbimbing secara daring yang berpedoman pada ajaran Tamansiswa. Magang III merupakan bagian penting dan merupakan prakondisi dari sistem penyiapan guru professional. Magang III dilaksanakan selama dua bulan yang berlokasi di SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA, Way Tuba, Way Kanan.
2. Landasan Hukum
a. UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 40 Ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut.
Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
1) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis;
2) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan
3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
b. PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28
1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
a) Kompetensi pedagogik;
b) Kompetensi kepribadian;
c) Kompetensi profesional; dan
d) Kompetensi sosial.
4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
5) Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan peraturan Menteri.
c. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagodik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sertifikat pendidikan diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan dan diberikan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditunjuk oleh Dikti Depdiknas.
d. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Pasal 1 Ayat 1
KKNI adalah kerangka perjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.
e. Permendikbud No. 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Bagian keempat Pasal 10 ayat 1 dan 2 dilanjutkan pasal 13 ayat 1, pasal 14 ayat 4 dan 5, serta pasal 26 ayat 6 dan 7.
Pasal 10 ayat 1 dan 2:
1) Standar proses pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang pelaksanaan pembelajaran pada program studi untuk memperoleh capaian pembelajaran lulusan.
2) Standar proses sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mancakup:
a) karakteristik proses pembelajaran
1. perencanaan proses pembelajaran
2. pelaksanaan proses pembelajaran; dan
3. beban belajar mahasiswa
f. UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 29 ayat 1 dan 2
1) Kerangka Kualifikasi Nasional merupakan penjenjangan capaian pembelajaran yang menyetarakan luaran bidang pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan diberbagai sektor.
2) Kerangka Kualifikasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan pokok dalam penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan pendidikan profesi.
g. Peraturan Akademik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa tahun 2019
h. Siaran Pers Kemendikbud Nomor: 137/sipres/VI/2020
i. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus.
B. Tujuan
Magang III dilaksanakan dengan tujuan agar mahasiswa sebagai calon guru memiliki kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial. Secara khusus, magang III bertujuan untuk memberikan pengalaman awal tambahan sesuai dengan kewenangan tambahan yang akan diberikan kepada calon guru. Selain itu, magang III juga bertujuan untuk menyiapkan kemampuan awal calon tenaga pendidik dengan mengalami langsung cara, metode, strategi, dan pendekatan mengajar pada masing-masing kelas sesuai dengan karakter peserta didik dan kondisi lingkungan.
C. Manfaat
Program Magang III diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Bagi mahasiswa
a. Mendapatkan pemahaman, penghayatan, dan pengalaman di bidang yang ditekuni yaitu calon tenaga pendidik;
b. Mendapatkan pengalaman melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran di kelas selama pandemi covid-19; dan
c. Memperoleh pengalaman dan keterampilan untuk melaksanakan pembelajaran dan kegiatan managerial di sekolah.
2. Bagi sekolah
a. Menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan antara sekolah tempat magang dengan FKIP UST Yogyakarta;
b. Memperoleh kesempatan untuk ikut serta dalam menyiapkan calon guru yang berdedikasi dan profesional; dan
c. Mendapatkan bantuan pemikiran, tenaga, ilmu, dan teknologi dalam merencanakan serta melaksanakan pengembangan di sekolah.
BAB II
PROFIL TEMPAT MAGANG III
A. Budaya Tempat Magang III
SMK Tunas Wiyata Way Tuba memiliki berbagai macam kegiatan yang diterapkan pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan pembelajaran di SMK Tunas Wiyata Way Tuba dilaksanakan secara dalam jaringan (daring). Namun guru dan karyawan tetap datang ke sekolah setiap hari. Guru dan karyawan datang ke sekolah pukul 12.05 sampai dengan pukul 17.05 WIB. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah selama pandemi Covid-19 menggunakan media Whatsapp Group (WAG) untuk menyampaikan materi pembelajaran, tugas, dan memantau siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran secara daring dimulai pada pukul 12.05 WIB melalui Whatsapp Group (WAG) yang dipimpin oleh wali kelas/ guru mapel masing-masing. Setelah pembelajaran daring, siswa diberikan tugas atau latihan mengenai pembelajaran pada hari itu.
Sistem pengumpulan tugas siswa dilakukan terjadwal ke sekolah secara bergantian sesuai dengan jadwal kelas setiap satu bulan sekali. Pengumpulan tugas siswa per kelas juga dilakukan secara terbatas yaitu dengan pengelompokkan pada jam tertentu.
B. Struktur Organisasi Tempat Magang III
1. Profil Sekolah
a. Identitas Sekolah
|
1)
|
Nama Sekolah
|
: SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA |
|
2) |
NPSN |
: 10810194 |
|
3) |
Jenjang Pendidikan |
: SMK |
|
4) |
Status Sekolah |
: Swasta |
|
5)
|
Alamat Sekolah
|
: Jl. Mayjen Ryacudu No.27, Way Tuba, Way Kanan |
|
a) |
RT/RW |
:5/0 |
|
b) |
Kode Pos |
: 34767 |
|
c) |
Kelurahan |
: Way Tuba |
|
d) |
Kecamatan |
: Way Tuba |
|
e) |
Kabupaten/Kota |
: Way Kanan |
|
f) |
Provinsi |
: Lampung |
|
g) |
Negara |
: Indonesia |
|
6) Posisi Gegografis |
: - |
|
b. Visi
“Terciptanya Generasi yang Bertaqwa, Berakhlak Mulia, Cerdas,
Terampil, dan berani”
c. Misi
1) Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama yang dianut.
2) Menanamkan budi pekerti guna pembentukan perilaku dan pembiasaan yang berakhlak mulia.
3) Menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan bermutu sehingga potensi siswa berkembang optimal.
4) Menggali dan mengembangkan kreativitas sehingga siswa menjadi terampil.
5) Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa menjadi pemberani.
d. Branding Sekolah
“SMK Tunas Wiyata (Bisa!)”
2. Struktur Organisasi SMK Tunas Wiyata Way Tuba

BAB III
KEGIATAN MAGANG III
A. Praktik Pelaksanaan Pembelajaran
Praktik pelaksanaan pembelajaran magang III selama pandemi covid-19 dilaksanakan sebanyak empat kali mengajar. Praktik tersebut dilaksanakan pada kelas rendah dan tinggi agar mahasiswa mengetahui perbedaan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas rendah dan tinggi. Selain itu, agar mahasiswa mempunyai pengalaman dalam mengajar di kelas rendah dan tinggi secara langsung. Praktik pembelajaran yang dilaksanakan oleh mahasiswa magang III di sekolah mengajar pada kelas X hingga kelas XII.
1. Praktik Pembelajaran Pertama
Praktik pembelajaran pertama dilaksanakan di kelas XI OT 1 pada hari sabtu, 14 September 2020. Pembelajaran pada kelas XI OT 1 secara (daring) diikuti oleh 26 orang siswa yang terdiri siswa laki-laki. Daring ini belajar Tema 1Subtema 3 Pembelajaran 1 muatan pelajaran Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor. Pembelajaran dilaksanakan mulai pada pukul 12.05 sampai pukul 17.00 WIB. Sebelum memulai pembelajaran, guru memberi form list absen di group WhatsApp. Pada pertemuan pertama menggunakan media WAG (WhatsApp Group) video tutorial praktik untuk materi mengenai system rem Sepeda motor. Siswa diberi soal membuat resume dari video yang telah dibagikan di group WhatsApp dan menjawab soal-soal tentang system rem. Dan jawabannya di kumpul pada akhir bulan atau minngu ke 4.
Praktik pembelajaran pertama di kelas XI OT 1 secara keseluruhan siswa antusias untuk mengikuti daring tetapi ada beberapa siswa yang tidak memiliki smartphon. Selain itu, ada siswa yang tidak tepat waktu mengumpulkan tugas hasil pekerjaannya sesuai tanggal yang telah ditentukan sehingga membutuhkan usaha lebih untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawap pada anak.
2. Praktik Pembelajaran Kedua
Praktik pembelajaran pertama dilaksanakan di kelas XI OT 2 pada hari sabtu, 14 September 2020. Pembelajaran pada kelas XI OT 1 secara (daring) diikuti oleh 24 orang siswa yang terdiri siswa laki-laki. Daring ini belajar Pembelajaran pelajaran Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor. Pembelajaran dilaksanakan mulai pada pukul 12.05 sampai pukul 17.00 WIB. Sebelum memulai pembelajaran, guru memberi form list absen di group WhatsApp. Pada pertemuan pertama menggunakan media WAG (WhatsApp Group) video tutorial praktik untuk materi mengenai system rem Sepeda motor. Siswa diberi soal membuat resume dari video yang telah dibagikan di group WhatsApp dan menjawab soal-soal tentang system rem. Dan jawabannya di kumpul pada akhir bulan atau minngu ke 4.
Praktik pembelajaran pertama di kelas XI OT 2 secara keseluruhan siswa antusias untuk mengikuti daring tetapi ada beberapa siswa yang tidak memiliki smartphon. Selain itu, ada siswa yang tidak tepat waktu mengumpulkan tugas hasil pekerjaannya sesuai tanggal yang telah ditentukan sehingga membutuhkan usaha lebih untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawap pada anak.
3. Praktik Pembelajaran Ketiga
Praktik pembelajaran ketiga dilaksanakan di kelas XI OT 1 pada hari Senin, 22 Oktober 2020. Pembelajaran pada kelas XI OT 1 diikuti oleh lima orang siswa yang terdiri dari tiga siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Pertemuan ini belajar pelajaran Pemeliharan Sasis Sepeda Motor. Pembelajaran dimulai pada pukul 13.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Sebelum memulai pembelajaran, guru memberi form list absen di group WhatsApp. Pada pertemuan pertama menggunakan media WAG (WhatsApp Group) file materi fungsi dan macam-macam rem Sepeda Motor, untuk materi mengenai system rem Sepeda motor. Siswa diberi soal di group WhatsApp dan menjawab soal-soal tentang system rem.
Pertama, siswa mengamati materi dari file e-module yang telah diberikan. Kemudian jawaban di kumpul lewat japri WhatsApp guru Matapelajaran.
Praktik pembelajaran ketiga dilaksanakan di kelas XI OT 1 pada hari Senin, 22 Oktober 2020. Pembelajaran pada kelas XI OT 1 diikuti oleh lima orang siswa yang terdiri dari tiga siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Pertemuan ini pelajaran Pemeliharan Sasis Sepeda Motor. Pembelajaran dimulai pada pukul 13.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Sebelum memulai pembelajaran, guru memberi form list absen di group WhatsApp. Pada pertemuan pertama menggunakan media WAG (WhatsApp Group) file materi fungsi dan macam-macam rem Sepeda Motor, untuk materi mengenai system rem Sepeda motor. Siswa diberi soal di group WhatsApp dan menjawab soal-soal tentang system rem.
Pertama, siswa mengamati materi dari file e-module yang telah diberikan. Kemudian jawaban di kumpul lewat japri WhatsApp guru Matapelajaran.
4. Praktik Pembelajaran Keempat
Praktik pembelajaran pertama dilaksanakan Daring (dalam Jaringan) di kelas XII OT pada hari Kamis, 22 Oktober 2020. Pembelajaran pada kelas XII OT diikuti oleh 24 orang siswa yang terdiri dari siswa laki-laki. Pertemuan ini belajar Pemeliharaa. Pembelajaran dimulai pada pukul 13.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB.
Pertama siswa mengisi Absen yang telah di share di WAG. Pada materi pembelajaran PSSM, guru menggali kemampuan siswa mengenai system suspense dengan memberikan 5 soal terkait system suspensi sepeda motor.
Praktik persekolahan yang dilakukan selama Magang III di SD Bangunharjo yaitu sebagai berikut:
1. Membantu simulasi praktik kelistrikan
Mulai tanggal 05 September 2020, mahasiswa Magang III diminta untuk membantu simulasi penggunaan alat praktik kelistrikan yang baru disekolah. Untuk menunjang kemampuan guru ketika mempraktikkan didepan siswa ketika sudah diadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
2. Membantu mengisi absensi siswa
Pada tanggal 28 September 2020, mahasiswa Magang III mengisi absen dari kelas X,XI, dan XII OT pada matapelajaran Praktik kelisrikan Sepeda Motor.
BAB IV
PENUTUP
|
NO |
Foto |
Jenis kegiatan |
|
1. |
|
Penerjunan magang |
|
2. |
|
Simulasi alat praktik system kelistrikan |
|
3. |
|
Pengumpulan tugas tugas |
|
4. |
|
Pengumpulan tugas PKSM |
|
5. |
|
Pengumpulan raport |
|
6. |
|
Observasi bengkel |
|
7. |
|
Konsultasi RPP |
|
8. |
|
Penyampain materi Darriang Via WhatsApp |
|
9. |
|
Pendataan siswa yang telah mengumpulkan tugas Daring |
|
10. |
|
Pengumpulan tugas-tugas dan pemberian dan penyampaian informasi terkait KBM |
Magang III merupakan kegiatan praktik pembelajaran terbimbing yang dilaksanakan di sekolah dasar untuk membekali mahasiswa menjadi calon guru profesional. Magang III dilaksanakan di SD Bangunharjo selama kurang lebih 1,5 bulan. Mahasiswa magang melakukan pembelajaran dengan latihan mengajar atau praktek mengajar mininal 4 kali. Selain itu, dengan diadakannya magang III di SD Bangunharjo mahasiswa mampu mengetahui cara guru melaksanakan pembelajaran secara daring selama masa pandemi Covid-19. Sebelum melakukan praktik pembelajaran, mahasiswa melakukan observasi terlebih dahulu dengan bimbingan guru kelas. Selain itu, mahasiswa juga mengurus perizinan terkait dengan dilakukannya praktik pembelajaran secara langsung. Hal tersebut dikarenakan sistem pembelajaran di sd masih dilakukan secara daring akibat pandemi Covid-19. Pelaksanaan kegiatan praktik pembelajaran secara langsung telah mendapatkan izin dari kepala sekolah, wali kelas, dan orangtua siswa. Selama melaksanakan praktik pembelajaran secara langsung, mahasiswa magang III dan sekolah tetap memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Hal tersebut seperti memakai masker, mencuci tangan, memeriksa suhu tubuh siswa, dan menjaga jarak ketika di lingkungan sekolah.
Selama pelaksanaan magang III di SMK Tunas Wiyata Way Tuba, Hal yang perlu diperhatikan oleh guru dan sekolah yaitu:
a. Gurudalam melaksanakan pembelajaran secara daring sebaiknya dapat mencari alternative lain yang sekiranya tidak memberatkan siswa, oran tua, dan guru.
b. Guru sebaiknya memperhatikan kedisiplinan siswa dalam mengumpulkan tugas agar mendapatkan evaluasi yang sesuai dengan kemampuan siswa.
c. Guru sebaiknya bekerja sama dengan orangtua siswa dalam hal pengkondisian sikap siswa khususnya pada saat pembelajaran daring berlangsung.
Lampiran 1
A. RENCANA KEGIATAN MAGANG III PADA MASA PANDEMI COVID-19
|
Nama |
: Ferri Anggriawan |
|
Nim |
: 2017006073 |
|
Program Studi |
:Pendidikan Vokasional Teknik Mesin |
|
Program Magang III |
: di Sekolah |
|
No |
Bentuk kegiatan |
Administrasi |
Waktu pelaksanaan |
Output |
Keterangan |
|
1. |
Koordinasi dengan koordinator magang sekolah |
Perizinan dengan wali kelas dan pelaksanan pebelajaran |
2 september 2020 |
|
Mandiri |
|
2. |
Koordinasi dengan wali kelas |
RPP, proses belajar mengajar, media pembelajaran |
4 september 2020 |
RPP dan media pembelajaran |
Mandiri |
|
3. |
Observasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru |
RPP |
14 September 2020 |
RPP |
Mandiri |
|
4. |
Membuat rencana pelaksanaan Pembelajaran |
RPP dan media pembelajaran |
28 september 2020 |
RPP dan media pembelajaran |
Mandiri |
|
5. |
Konsultasi dengan wali kelas dan dosen pembimbing |
RPP dan media pembelajaran |
30 sepember 2020 |
RPP dan media pembelajaran |
mandiri |
|
6. |
membuat RPP |
RPP dan media pembelajaran |
22 oktober 2020 |
RPP dan media pembelajaran |
Mandiri |
|
7. |
membuat RPP |
RPP dan media pembelajaran |
22 oktober 2020 |
RPP dan media pembelajaran |
mandiri |
|
8. |
Konsultasi RPP dengan wali kelas dan dosen pembimbing |
RPP dan media pembelajaran |
24 oktober 2020 |
Rpp dan media pembelajaran |
mandiri |
|
9. |
Membuat video pembelajaran |
Video pembelajaran |
24 oktober 2020 |
Video pembelajaran dengan perangkat pembelajaran |
Dibantu TU |
|
10. membuat |
Membuat lapran magang III |
Laporan Magang |
30 Oktober sampai 10 desember |
Laporan magang III |
Mandiri |
|
Lampung, 04 Desember 2020
|
Mengetahui,
|
Dosen Pembimbing Lapangan
Drs. Ir. Suparmin, M.T NIDN. 0007055910 |
Mahasiswa
Ferri Anggriawan NIM. 2017006073 |
Lampiran 2
B. CATATAN HARIAN KEGIATAN MAGANG III PADA MASA PANDEMICOVID-19
|
Nama |
: Ferri Anggriawan |
|
Nim |
: 2017006073 |
|
Program Studi |
:Pendidikan Vokasional Teknik Mesin |
|
Program Magang III |
: di Sekolah |
|
No |
Hari/tanggal |
Waktu |
Kegiatan |
Paraf pihak yang terlibat |
|
|
Mulai |
Selesai |
||||
|
1. |
Sabtu/2 -09- 2020 |
13.00 |
16.30 |
Perizinan magang III dengan sekolah |
|
|
2. |
Senin/4 -09- 2020 |
14.00 |
16.00 |
Simulasi alat kelistrikan |
|
|
3. |
Selasa/05-09-2020 |
14.00 |
16.00 |
Observasi pembelajaran via daring |
|
|
4. |
Senin/ 14-09-2020 |
13.00 |
16.00 |
Pengambilan data-data yang diperlukan |
|
|
5. |
Kamis/17-09-2020 |
14.00 |
15.00 |
Mengecek tugas siswa Rekap absen kelas XI TBSM Mendata pengumpulan raport dan data siswa |
|
|
6. |
Sabtu/19-09-2020 |
13.00 |
16.00 |
Mengecek tugas siswa, Rekap absen kelas XII TBSM Mendata pengumpulan raport dan data siswa |
|
|
7. |
Selasa/29-09-2020 |
13.00 |
16.00 |
Rekap Absensi kelas XI TBSM Via Daring |
|
|
8. |
Kamis/22-10-2020 |
13.00 |
17.00 |
Daring pssm, Konsultasi RPP, media pembelajaran |
|
|
9. |
Sabtu/24-10-2020 |
13.00 |
17.00 |
Daring PSSM, kelas XII TBSM |
|
|
10. |
Jum’at/30-10-2020 |
13.00 |
15.00 |
Menyusun laporan magang |
|
|
11. |
Kamis/05-11-2020 |
15.00 |
16.00 |
Mengurus surat MOU dengan ttd catatan harian |
|
|
12. |
Jumat/27-11-2020 |
13.00 |
15.00 |
Penarikan magang III |
|
|
Lampung, 04 Desember 2020 Mahasiswa,
Ferri Anggriawan 2017006073 |
Lampiran 3
A. Surat Permohonan Tempat Pelaksanaan Magang III

Lampiran 4
B. Surat Pemberian Izin Kepala Sekolah

C. Surat Ucapan Terimakasih
D. Surat Keterangan Pelaksanaan Magang III
E. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1
NAMA : FERRI ANGGRIAWAN
NIM : 2017006073
PRODI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
|
Nama Sekolah |
SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA |
|
Kompetensi Keahlian |
TEKNIK & BISNIS SEPEDA MOTOR |
|
Mata Pelajaran |
Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor |
|
Topik |
Memahami Prinsip Kerja System Suspensi |
|
Kelas/Semester |
XI OT 1 & OT 2/1 |
|
Tahun Pelajaran |
2020/2021 |
|
Alokasi Waktu |
2x60 menit |
A. Kometensi Inti:
|
KI-1 |
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya |
|
KI-2 |
Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. |
|
KI-3 (Pengetahuan): |
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional |
|
KI-4 (keterampilan): |
Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor . Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. |
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
NO |
Kompetensi Dasar |
Indikator Pencapaian Kompetensi |
|
1 |
Memahami Prinsip Kerja Sistem Suspensi |
Menerangkan prinsip kerja sistem suspensi |
|
Menyebutkan komponen- komponen sistem suspensi |
||
|
Menjelaskan jenis-jenis sistem suspensi |
||
|
2 |
Merawat berkala Suspensi |
Menyusun langkah perawatan sistem suspensi |
|
Melakukan perawatan berkala sistem suspensi |
||
|
Memeriksa hasil perawatan berkala sistem suspensi |
C. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pengamatan tayangan power point serta diskusi dan kerja kelompok, peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja sistem suspensi sepeda motor
2. Melalui diskusi dan kerja kelompok serta tayangan youtube tentang fungsi sistem suspensi dan komponen- komponen sistem suspensi, peserta didik mampu menguraikan jenis-jenis sistem suspensi sesuai buku manual dengan cermat dan kritis
3. Setelah mengidentifikasi teks power point, serta melalui diskusi dan kerja kelompok, peserta didik mampu memilih peralatan yang sesuai untuk melakukan perawatan berkala sistem suspensi sepeda motor secara kreatif dan bertanggung jawab.
4. Setelah melakukan praktik di Lab. TBSM, serta melalui tanya jawab dan kerja kelompok peserta didik mampu mengidentifikasi gangguan dan melakukan perawatan berkala pada sistem suspensi dengan cermat dan kritis
5. Setelah selesai praktik merawat berkala sistem suspensi, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab, serta melalui ekplorasi di internet, peserta didik mampu membandingkan hasil pemeriksaan sistem suspensi dengan buku manual dengan cermat dan kritis
6. Setelah mengidentifikasi hasil pemeriksaan ban, peserta didik mampu menyusun laporan hasil perawatan berkala pada job sheet secara kreatif dan bertanggung jawab
D. Penguatan Pendidikan Karakter (PKK)
1. Religiusitas
2. Nasionalisme
3. Kejujuran
4. Kedisiplinan
E. Materi Pembelajaran
|
MATERI REGULER |
MATERI REMIDI |
MATERI PENGAYAAN |
|
Garis besar sistem suspensi |
Garis besar sistem suspensi |
Prosendur pemeriksaan dan perawatan berkala system suspense (peredam kejut) sepeda motor |
|
Jenis sistem suspensi sepeda motor |
Jenis sistem suspensi sepeda motor |
|
|
Komponen sistem suspensi |
Komponen sistem suspensi |
|
|
Prinsip kerja peredam kejut |
Prinsip kerja peredam kejut |
|
|
Pemeriksaan dan perawatan sistem suspensi |
Pemeriksaan dan perawatan sistem suspense |
F. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran
1. Pendekatan : Blanded Learning
2. Metode : pembelajaran daring, penugasan
3. Model : e-learning
G. Media Pembelajaran
1. Media
a) Power point, Laptop, Proyektor
b) WA Group,
2. Bahan
a) Unit Sepeda Motor
b) Job sheet
c) Tools Box
3. Sumber Belajar
1. Wawan (2013), “Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor 2”, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik & Tenaga Kependidikan, Jakarta
2. Jarna, Julius (2008), “Teknik Sepeda Motor 2”, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta
3. PT. Astra Honda Motor, Buku panduan reparasi Honda
4. dan internet
H. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
|
Tahap Pembelajaran |
Kegiatan Pembelajaran |
|
|||
|
Tatap Muka |
Online |
Sumber referensi |
|||
|
Deskripsi Kegiatan |
Alokasi Waktu |
kegiatan |
Alokasi Waktu |
||
|
Kegiatan |
|
|
|
|
|
|
Pendahuluan |
- |
|
1. Guru mengucapkan salam dan peserta didik menjawab salam 2. guru memeriksa kehadiran siswa 3. apresiasi materi pembelajaran |
10 menit |
|
|
Inti |
- |
|
Upload bahan (materi) 1. Garis besar sistem suspense 2. Jenis sistem suspensi sepeda motor 3. Komponen sistem suspense 4. Prinsip kerja peredam kejut 5. Pemeriksaan dan perawatan sistem suspensi
Upload tugas: 1. Merangkum materi yang di share 2. Menjawab soal-soal yang diberikan
|
40 menit |
Buku paket Pemeliharaan sasis sepeda motor kelas XI/1 Youtube, internet, Wawan (2013), “Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor 2”, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik & Tenaga Kependidikan, Jakarta |
|
Penutup |
|
|
1. mereview materi 2. menyimpulkan pembelajaran 3. mengucapkan salam |
10 menit |
Tanya jawab Dan moifasi |
I. Evaluasi
1. Teknik penilaian
a) Tugas
b) Ujian
c) Keaktifan diforum diskusi
d) absensi
2. Instrument
|
No |
|
No soal/ bobot nilai |
jumlah |
skor |
|||
|
Urt |
NIS |
Nama Peserta |
Interaksi peserta didik dengan materi pembelajaran |
Interaksi antar siswa |
Interaksi siswa dengan guru |
||
|
online |
online |
online |
|||||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
|
|
|
||
|
Rata-rata |
|
|
|
|
|
||
|
Persentase |
|
|
|
|
|
||
3. Instrumen penilaian pengetahuan
a) Butir soal
1) Jelaskan apa fungsi system suspense?
2) Sebutkan jenis-jenis system suspense? Dan jelaskan?
3) Sebutkan komponen-komponen sitem suspense pada sepeda motor?
4) Jelaskan apa yang dimaksud dengan sudut caster?
5) Sebagai seorang mekanik, apasaja gangguan atau kerusakan yang kerap terjadi pada system suspense sepeda motor? Dan apa penyebabnya?mkn
b) Jawaban
1) menyerap bantingan, kejutan maupun getaran dari permukaan jalan dengan tujuan meningkatkan keamanan kenyamanan dan stabilitas berkendara. selain itu juga berfungsi untuk menopang body dan rangka sepeda motor untuk menjaga letak geometris antara body dan roda-roda
2) 1. Suspensi Bagian Depan (Front Suspension)
Suspensi depan yang terdapat pada sepeda motor pada umumnya terbagi tiga, yaitu:
a. Garpu batang bawah (bottom link fork); jenis ini biasanya dipasang pada sepeda motor bebek model lama, vespa atau scooter.
b. Garpu teleskopik (telescopic fork); merupakan jenis suspensi yang paling banyak digunakan pada sepeda motor. Suspensi teleskopik terdiri dari dua garpu (fork) yang dijepitkan pada steering yoke. Garpu teleskopik menggunakan penahan getaran pegas dan oli (minyak pelumas) garpu. Pegas menampung getaran dan benturan roda dengan permukaan jalan dan oli garpu mencegah getaran diteruskan ke batang kemudi. Garpu depan dari sistem kemudi (yang termasuk kedalam suspensi depan) fungsinya untuk menopang goncangan jalan melalui roda depan dan berat mesin serta penumpang. Oleh karenanya garpu depan harus mempunyai kekuatan, kekerasan yang tinggi, selain caster dan trail (kesejajaran roda depan) yang berpengaruh besar pada kestabilan mesin.
c. Up side down; jenis suspensi ini banyak diterapkan pada sepeda motor kapsitas besar, seperti Yamaha R1 & R6, Suzuki GSX 600, dll. Tipe ini pada dasarnya hampir sama dengan tipe garpu teleskopik, hanya saja jika pada tipe garpu teleskoik tabung fluida redam terletak di bawah, maka pada tipe ini justru sebaliknya, tabung fluida redam terletak di atas.
3) .
· Sil debu
· Cincin stopper
· Sil oli
· Tabung garpu
· Torak garpu
· Cincin torak garpu
· Pegas garpu
· Baut garpu
· Pegas reaksi
4) Caster adalah sudut kemiringan sumbu vertikal roda, artinya roda depan dapat berbelok karena bergerak pada sumbu vertikal. Caster, akan mengatur sudut kemiringan sumbu vertikal ini. Jadi posisi belok roda tidak 0 derajat vertikal.
5) .
a. gangguan :suspensi depan atau belakang terlalu keras / lemah dan timbul suara abnormal dari suspensi
b. penyebab :
- Pegas yang sudah lemah.
- Minyak peredam kejut yan tidak tepat. Apabila menggunakan minyak yang kekentalannya tidak tepat, maka suspensi akan terlalu lunak atau terlalu keras
- Jumlah minyak suspensi yang kurang atau terjadinya kebocoran. Apanila jumlah pengisian minyak ekdalam suspensi tidak sesuai, maka suspensi akan terasa terlalu lunak atau terlalu keras. Demikian pula apabila terjadi kebocoran, maka suspensi akan terasa lunak
- Apabila penutup suspensi bengkok, memungkinkan saling bergesekan dengan tabung suspensi atau terhadap pegasnya dan menimbulkan gesekan.
- Apabila karet penyetop ( seal oil ) telah usang atau hancur, maka akan menimbulkan suara pukulan yang keras bila pergerakan peredam kejut “ mentok “ sampai langkah maksimalnya.
I. Pedoma penskoran
|
No. soal |
Pedoman penskoran |
Skor maksimal |
||||
|
Menjawab dengan benar disertai pengembangan
|
Menjawab dengan benar |
Menjawab salah |
Soal di tulis ulang |
Tidak dijawab |
||
|
1 |
15 |
13 |
2 |
0,5 |
0 |
15 |
|
2 |
20 |
18 |
2 |
0,5 |
0 |
20 |
|
3 |
20 |
18 |
2 |
0,5 |
0 |
20 |
|
4 |
30 |
28 |
2 |
0,5 |
0 |
30 |
|
5 |
15 |
13 |
2 |
0,5 |
0 |
15 |
|
Maksilal skor |
100 |
90 |
10 |
5 |
0 |
100 |
J. Rumus penilaian
Data hasil penilaian pengetahuan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟=Σ Skor yang dijawab benar 10
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚
Catatan Kurikulum dan Kepala Sekolah Tentang Perbaikan RPP:
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
|
Guru
Fatkurohman S.T |
Way tuba, 23 september 2020
Mahasiswa
Ferri Anggriawan |
MATERI AJAR
Bahan ajar Sistem suspensi Sepeda Motor
1. Deskripsi
Materi suspensi yang terdiri dari pembelajaran 1 dan 2 ini menjelaskan tentang jenis-jenis suspensi baik suspensi depan maupun suspense belakang sepedamotor, disamping itu juga tercakup bagaimana cara pemeriksaaan dan perbaikan gangguan yang terjadi pada sistem suspensi
2. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu
1. Menjelaskan jenis-jenis suspensi
2. Menjelaskan cara kerja system suspensi
3. Memeriksa komponen system suspensi
4. Memperbaiki gangguan yang terjadi pada system suspensi
3. Pendahuluan
Sistem Peredam Kejut Sepeda Motor
A. Pengertian
Sistem peredam kejut merupakan salah satu bagian pada chasis sepeda motor yang berfungsi menyerap bantingan, kejutan maupun getaran dari permukaan jalan dengan tujuan meningkatkan keamanan, kenyamanan dan stabilitas berkendara. Selain itu sistem peredam kejut juga berfungsi untuk menopang body dan rangka sepeda motor untuk menjaga letak geometris antara body dan roda-roda.
Prinsip kerja sistem peredam kejut adalah sebagai berikut :
|
|
Garis diagram pada gambar di samping ini menjelaskan bahwa hanya dengan pegas saja tidak sanggup untuk menyerap goncangan akibat kondisi jalanan. Karena goncangan yang diterima pegas akan dikembalikan lagi sehingga pegas akan bekerja dengan gerakan mengayun. Dalam hal ini pengendara sepeda motor tidak nyaman dan berbahaya. |
|
|
Jika memakai peredam kejut seperti gambar di samping, maka goncangan yang di terima telah diserap untuk sebagian besar oleh peredam kejut sehingga pengendalian |
B. Bagian Utama istem Peredam kejut Belakang
Cushion unit/shock absorber (peredam kejut) diletakkan antara ujung belakang dari lengan dan rangka (frame). Konstruksi peredam kejut depan adalah sebagai berikut:
|
|
Keterangan gambar: 1. Upper mounting eye 2. Nut 3. Rubber stop 4. Shroud (decorative only) 5. Damper rod 6. Spring 7. Oil seal 8. Inner spring 9. Damper valve 10. Damper piston 11. Spring seat 12. Damper body 13. Compression valve 14. Lower mounting eye |
C. Prinsip kerja
|
|
Ditekan (compression cycle) Saat shock absorber ditekan karena gaya osilasi dari pegas suspensi, maka gerakan yang terjadi adalah shock absorber mengalami pemendekan ukuran. Pada saat inilah piston bergerak turun ke bawah. Fluida shock absorber yang berada di bawah piston akan naik keruang di atas piston melalui lubang yang ada pada piston. Sementara lubang kecil (orifice) pada piston tertutup karena katup menutup saluran orifice tersebut. |
Penutupan katup ini disebabkan karena peletakkan katup yang berupa membran (plat tipis) dipasangkan di bawah piston, sehingga ketika fluida shock absorber berusaha naik ke atas maka katup membran ini akan terdorong oleh fluida shock absorber dan akibatnya menutup saluran oriface. Jadi fluida shock absorber akan menuju ke atas melalui lubang yang besar pada piston, sementara fluida tidak bisa keluar melalui saluran oriface di piston. Pada saat ini shock absorber tidak melakukan peredaman terhadap gaya dari osilasi pegas suspensi, karena fluida dapat naik ke ruang di atas piston dengan sangat mudah.
Memanjang (extension cycle)
Pada saat memanjang piston di dalam tabung akan bergerak dari bawah naik ke atas. Gerakan naik piston ini membuat fluida shock absorber yang sudah berada di atas menjadi tertekan. Fluida shock absorber ini akan mencari jalan keluar agar tidak tertekan oleh piston terus. Maka fluida ini akan mendorong katup pada saluran orifice untuk membuka dan fluida akan keluar atau turun ke bawah melalui saluran orifice. Pada saat ini katup pada lubang besar di piston akan tertutup karena letak katup ini yang berada di atas piston. Fluida shock absorber ini menekan katup lubang besar di piston ke bawah dan berakibat katup ini tertutup. Tapi letak katup saluran oriface membuka karena letaknya yang berada di bawah piston, sehingga ketika fluida shock menekan ke bawah katup ini membuka. Pada saat ini fluida shock absorber hanya dapat turun ke bawah melalui saluran oriface yang kecil. Karena salurannya yang kecil maka fluida shock absorber tidak akan bisa cepat turun ke bawah alias terhambat. Di saat inilah shock absorber melakukan peredaman terhadap gaya osilasi pegas suspensi.
D. Jenis Peredam kejut
Ada beberapa macam jenis shock absorber menurut gaya redam, kontruksi dan media pengisi.
1) Gaya Redam
Menurut gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu single action dan double action.
a) Single Action
Gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber hanya terjadi pada langkah memanjang (ekspansion stroke) sedangkan pada langkah memendek (compression stroke) tidak terjadi gaya redam.
b) Double Action
Gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber terjadi pada langkah memanjang (ekspansion stroke)dan langkah memendek (compression stroke).
c) Kontruksi
Menurut kontruksinya shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu mono tube dan twin tube.
1) Mono Tube
|
|
Hanya terdiri dari satu tabung dan posisi tabung berada pada bagian atas. Bagian utama terdiri dari tutup (cover), silinder bagian atas (upper chamber), silinder bagian bawah (lower chamber) dan piston dilengkapi lubang-lubang kecil (orifice) sebagai katup. |
Cara kerja pada saat compresion stroke terjadi fluida tertekan mengalir dari silinder bagian bawah ke silinder bagian atas melalui katup pada piston. Karena perpindahan fluida melalui lubang-lubang kecil pada katup, terjadi tahanan yang mengakibatkan peredam getaran. Sedangkan pada saat ekspansion stroke terjadi fluida akan mengalir dengan arah berlawanan. Fluida akan kembali mengalir dari silinder bagian atas ke silinder bagian bawah melalui katup pada piston. Dengan kembalinya fluida, maka tahanan fluida menjadikan sebagai peredam getaran.
2) Twin Tube
Cara kerja pada saat compresion stroke terjadi fluida tertekan mengalir dari silinder dalam bagian bawah ke silinder dalam bagian atas melalui katup pada piston. Fluida juga mengalir dari silinder dalam ke silinder luar, melalui katup kontrol yang berada pada dasar silinder. Karena perpindahan fluida ini, menjadikan peredam getaran. bekerja. Peredam terhadap getaran yang terjadi pada roda-roda, ditimbulkan oleh tahanan mengalir dengan arah yang berlawanan. Fluida akan kembali mengalir dari silinder dalam bagian atau ke silinder dalam bagian bawah, melalui katup pada piston. Demikian juga fluida yang ada di silinder luar mengalir kembali ke silinder dalam melalui katup kontrol. Dengan kembalinya fluida, tahanan aliran menjadikannya sebagai peredam getaran.
d) Media Pengisi
Menurut media pengisi shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu oil type dan gas type.
i. oil type
Tabung dalam (cylinder) berisi penuh dengan oli pada saat peredam kejut bekerja, oli akan mengisi sebagian ruang pada tabung luar.
ii. gas type
|
|
Tabung dalam (cylinder) berisi penuh dengan oli dan dimasukkan gas nitrogen bertekanan yang akan mengisi ruang pada tabung luar pada saat bekerja. |
Jenis sistem peredam kejut depan yang umum digunakan pada sepeda motor diantaranya:
|
1. Peredam kejut Bottom Link: a. Leading Link Type
b. Trailling Link Type
|
Keuntungan : Pada saat pengereman, konstruksi link akan menaikkan bagian depan kendaraan, sehingga gejala kendaraan menukik akibat pengereman dapat diminimalisir. Kerugian: · Adanya link dan engsel menyebabkan sistem peredam kejut ini memerlukan perawatan dan pelumasan rutin. · Keausan bushing pada bagian engsel link akan menyebabkan kedudukan roda miring terhadap sumbu geometrinya. · Kurang nyaman digunakan pada kecepatan tinggi maupun off road.
|
|
2. Peredam kejut teleskopik
|
Keuntungan : · Tidak memerlukan perawatan ekstra seperti halnya pada system peredam kejut bottom link. · Kenyamanan dan keamanan pada kecepatan tinggi tetap terjaga. · Kerugian : · Bagian depan kendaraan cenderung menukik pada saat pengereman, sehingga kemungkinan pengendara terjungkal pada saat pengereman mendadak, menjadi lebih besar. |
E. Sistem peredam kejut belakang
Sistem peredam kejut belakang yang umum digunakan pada sepeda motor menggunakan swing arm pivot sebagai penunjang dan penahan rear axle. Penggunaan swing arm pivot memberikan reaksi yang cepat pada roda untuk bervariasi di berbagai kondisi jalan, disamping itu memiliki kemampuan mengontrol gerakan roda dengan baik sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan berkendara. Prinsip kerja macam-macam peredam kejut roda belakang sebagai berikut.
|
Jenis Peredam Kejut |
Cara Kerja |
|
1. Friction damper
|
Prinsip kerjanya sangat sederhana, dimana untuk pengganti oli sebagai peredam gerakan per dan suspense dilakukan oleh piston yang memiliki ring non metalik (biasanya dari bahan plastik) yang dipasangkan pada bagian atas piston. Ring piston dari bahan non metalik tersebut berfungsi meredam gerakan rod yang menekan dinding bagian dalam silinder yang dilapisi oleh gemuk (grease). |
|
2. Oil damper
|
Oil damper berfungsi mengontrol gerakan pegas suspensi (naik maupun turun) melalui lubang-lubang saluran yang berrada di piston damper Gerakan menahan yang dilakukan oleh piston damper didapatkan dari oli yang meredam gerakan pegas, melalui perubahan lubang keluar masuknya oli pada saat piston bergerak turun naik. |
Pada saat piston bergerak turun (menekan), oli menahan gerakan tersebut melalui sebagian besar aliran oli yang masuk melalui damping orifice, reaksi terjadi akibat gerakan roda yangmenyentuh secara tiba-tiba bagian jalanan yang menonjol. Pada saat tekanan pegas mengembalikan rod bergerak ke atas (memanjang) maka gerakan akan tertahan dengan lembut, karena adanya tekanan oli dari damping oil melalui lubang-lubang kecil orifice.
Jenis-jenis peredam kejut roda belakang sepeda motor diantaranya:
1. Swing arm type
Suspensi belakang jenis swing arm memberikan kenyamanan dalam pengendaraan serta membantu daya tarik dan kemampuan mengontrol gerakan roda yang baik. Pada umumnya semua sepeda motor menggunakan sistem kerja dasar suspensi belakang seperti ini. Suspens belakang dengan sistem dasar swing arm ini dirancang untuk beberapa jenis, bergantung dari kebutuhan sistem redamnya serta disain daris swing arm nya.
|
|
1. Rear arm component 2. Bush 1 3. Shaft, Pivot 4. Nut, Nylon 5. Seal, Guard 6. Guard, Chain 7. Bolt, Flange 8. Washer, Spring 9. Nut, Hexagon 10. Support, Chain 11. Screw, With Washer 12. Shock Absorber Assembly, Rear Native Red 13. Washer, Plate 14. Nut 15. Bolt, Hexagon |
2. Unit swing type
|
|
Kontruksi tipe unit swing adalah mesin itu sendiri yang bereaksi seperti lengan yang berayun. Jadi mesin tersebut yang berayun. Tipe sistem suspensi ini digunakan untuk sepeda motor scooter dan sebagian moped. |
Umumnya suspensi tipe unit swing dipakai pada sepeda motor yang mempunyai penggerak akhirnya (final drive) memakai sistem poros penggerak. Ada dua jenis type suspensi ini yaitu Double Suspensi dan Monoshoc.
a. Double Suspension
|
|
Jenis ini mempunyai dua peredam kejut yang mendukung bagian belakang frame body dan swing arm. Suspensi ini umum digunakan, karena sangat sederhana proses pemasangan, jumlah komponen yang lebih sedikit, serta mempunyai sistem dasar yang ekonomis. |
b. Monoshock
|
|
Jenis suspensi ini mempunyai satu peredam kejut yang mendukung bagian belakang frame body dan bagian swing arm. Suspensi ini memiliki kontruksi yang rumit, tetapi lebih stabil dibanding jenis double suspension. Banyak digunakan pada sepeda motor modern untuk keperluan sport. |
3. Monocross suspension
|
|
Tipe ini merupakan swing arm tetapi memiliki bentuk dan posisi bantalan dari cushion unit yang unik. Sistem monocross suspension merupakan hasil penemuan asli dari Mr. Telkens berasal dari Belgia dan sistem ini dikembangkan jauh oleh Yamaha untuk penggunaan yang praktis pada racing dan mesin sport sebaik mesin jarak jauh. |
Konstruksi dan cara kerjanya suspensi monocross menyatu pada struktur keseluruhan dari frame, swing arm dan cushion unit. Cushion ini menggunakan gas inert (nitrogen), oli pegas dan karet sebagai peredam kejutan untuk menghasilkan bantalan yang empuk. Bahan cushion ini berbeda dengan sebelumnya yang dipasang dengan posisi tegak, damper olinya terpisah dari gas tekanan tinggi yang dipisahkan oleh base valve dan membran karet yang kemudian dimampatkan. Karena keadaan ini, meskipun unitnya dimiringkan proses aerasi (penetrasi udara ke oli) tidak akan terjadi, sehingga tingkat kelembaban yang stabil dapat terjadi.
F. Pemeriksaan dan perawatan peredam kejut depan
|
NO |
Jenis Kendaraan |
Prosedur Pemeriksaan |
|
1. |
Kebocoran Peredam kejut
|
a. Amati secara visual pada bagian yang diberi anak panah, apakah terdapat kebocoran oli atau tidak. b. Jika terjadi kebocoran, maka peredam kejut mesti diperbaiki |
|
2. |
Memeriksa kelurusan geometri roda
|
a. Luruskan stang stir, periksa kelurusan antara roda depan dan belakang b. Apabila roda depan dan belakang tidak segaris, periksa posisi chain adjuster dari ketepatan posisinya antara sisi kiri dan kanan. c. Apabila roda depan dan belakang terlihat miring ke satu arah, lakukan pemeriksaan pada bagian-bagian swing arm ataupun suspensi depan dar kebengkokan/rangka yang terpuntir. |
|
3. |
Periksa keadaan pegas suspensinya
|
Ukur panjang pegas dalam keadaan pegas terlepas. Jika panjang pegas melebihi ketentuan, pegas harus diganti. |
|
4. |
Memeriksa suspensi depan (teleskopik)
|
Memeriksa kerja sistem suspensi depan dengan menekan bagian depan sepeda motor beberapa kali (dengan rem ditahan). Gerakan kepegasan harus berlangsung dengan lembut dan lancar, setelah ditekan pegas harus kembali ke posisi semula dengan sedikit tahanan. |
|
5. |
Melakukan pembongkaran komponen suspensi depan
|
i. Membuka bagian-bagian: spakbor depan, baut penjepit garpu dan kaki garpu depan. CATATAN : Waktu garpu akan dibongkar, kendorkan baut garpu, tapi jangan dilepaskan dulu.
ii. Lepaskan baut garpu. AWAS!! Baut garpu berada di bawah tekanan pegas. Berhati-hatilah saat melepaskannya. iii. Lepaskan pegas garpu, keluarkan fluida garpu dengan memompa tabung garpu ke atas dan ke bawah beberapa kali. iv. Lepaskan sil debu dan cincin stopper sil oli. v. Tahan penggeser garpu pada ragum dengan pemegang lunak atau lap bengkel. Lepaskan baut soket garpu dengan hex wrench. vi. Lepaskan torak garpu dan pegas reaksi dari tabung garpu, |
|
6. |
Pemeriksaan Tabung garpu / slider/ Torak
|
i. Periksa tabung garpu, slider garpu dan torak garpu terhadap gerusan, dan keausan yang berlebihan atau tidak. ii. Periksa cincin torak garpu terhadap keausan atau kerusakan. iii. Periksa pegas reaksi terhadap keausan atau kerusakan. |
|
7. |
Melakukan pemeriksaan komponen peredam kejut roda depan
|
Letakkan tabung garpu pada blok-V dan ukur keolengan. Keolengan yang sebenarnya adalah 1/2 dari pembacaan total indikator. Bandingkan dengan keolengan yang diijinkan. |
|
8. |
Melakukan perakitan dan pemasangan komponen suspensi depan
|
Sebelum dipasang, semua komponen dicuci dengan air atau larutan yang tidak mudah terbakar dan keringkan. Pasang pegas reaksi dan torak garpu ke dalam tabung garpu. Pasang tabung garpu pada slider garpu.
|
|
9. |
|
Topang penggeser garpu pada catok dengan pemegang lunak atau lap bengkel. Lumasi larutan pengunci ulir baut soket garpu dan pasang dan kencangkan baut soket dengan cincin washer perapat yang baru pada torak garpu.
Pasang sil oli dan dorong masuk dengan menggunakan kunci perkakas khusus.
Pasang cincin stopper sil oli pada alur slider garpu dengan kencang.
Pasang sil debu
Tuang fluida untuk garpu yang dianjurkan sesuai jumlah yang telah ditentukan ke dalam tabung garpu. Minyak Garpu Yang Dianjurkan: ATF Kapasitas Minyak Garpu: 62 Cc Pompa tabung garpu beberapa kali untuk mengeluarkan udara palsu dari bagian bawah tabung garpu.
|
|
10. |
Susunan peredam kejut teleskopik setelah dirakit. |
|
G. Pemeriksaan dan perawatan peredam kejut belakang
1. Pelepasan Lengan Ayun

Lepaskan komponen-komponen berikut:
- Roda belakang
- Knalpot
Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kanan. Lepaskan kait pegas pengembali pedal rem dari lengan ayun.
Lepaskan baut-baut pemasang dan mur pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kiri lalu lepaskan pemegang dan pijakan kaki pembonceng sebelah kiri. Lepaskan pijakan kaki pembonceng sebelah kiri.

Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kiri.

Lepaskan pelapis tutup rantai roda.
2. Pembongkaran Lengan Ayun
Lepaskan komponen-komponen
berikut:
- Pin cotter
- Mur, cincin washer rata dan cincin
washer pegas
- Baut stopper
- Lengan stopper panel rem
3. Pemeriksaan Lengan Ayun
Periksa bos engsel terhadap keausan atau kerusakan. Periksa lengan ayu terhadap keretakan atau kerusakan
4. Perakitan Lengan Ayun
Pasang lengan stopper rem belakang, baut, cincin washer pegas, cincin washer rata, dan mur. Pasang mur dengan kencang. Pasang pin cotter yang baru untuk mengamankan mur.
5. Pemasangan Lengan Ayun
Pasang rantai roda dan pasang lengan ayun pada rangka. Masukkan baut
engsel dari sisi kiri dan untuk sementara kencangkan mur engsel. Pasang baut-baut pemasangan bagian bawah peredam kejut dan kencangkan. Pasang pelapis tutup rantai roda.
|
No |
Jenis pemeriksaan |
Prosedur pemeriksaan |
|
1. |
Memeriksa kerja sistem suspensi belakang |
Pemeriksaan kerja sistem suspense belakang dilakukan dengan cara menekan bagian belakang sepeda motor beberapa kal (dengan rem ditahan). Gerakan kepegasan harus berlangsung dengan lembut dan lancar, setelah ditekan pegas harus kembali ke posisi semula dengan sedikit tahanan. |
|
2. |
Pemeriksaan komponen suspensi yang aus atau kendor |
Menempatkan sepeda motor pada standar utama, goyangkan lengan ayun ke kanan-kiri. Jika ada kekocakan, periksa baut engsel dan bos lengan ayun. |
|
3. |
Pelepasan lengan ayun |
1. Lepaskan roda belakang dan knalpot 2. Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kanan dan kiri.
3. Lepaskan kait pegas pengembali pedal rem dari lengan ayun. 4. Lepaskan mur-mur pemasangan peredam kejut bagian bawah dan cincin-cincin washer. 5. Lepaskan mur engsel lengan ayun, baut dan lengan ayun. 6.
|
|
4. |
Pemeriksaan lengan ayun |
1. Periksa bos engsel terhadap keausan atau kerusakan. 2. Periksa lengan ayun terhadap keretakan atau kerusakan. 7.
8. Gambar 65. Pemeriksaan Lengan Ayun |
|
5. |
Pelepasan Peredam Kejut (Shock Absorber) |
1. Topang sepeda motor pada standar tengah. 2. Lepaskan tutup bodi, lepaskan mur pemasangan bagian atas peredam kejut, cincin washer dan pegangan belakang. 3.
4. Gambar 66. Pelepasan Peredam Kejut |
|
6. |
Pemeriksaan Peredam Kejut |
1. Periksa apakah ada kerusakan pada peredam kejut. 2. Periksa hal-hal berikut: § Batang peredam terhadap kebengkokan atau kerusakan § Unit peredam terhadap perubahan bentuk atau kebocoran oli § Bos penyambung bagian atas dan bawah terhadap keausan atau kerusakan § Periksa kehalusan cara kerja peredam secara keseluruhan. |
H. Gangguan
Gangguan yang sering terjadi pada peredam kejut sepeda motor adalah:
1. Suspensi depan atau belakang terlalu lemah/keras.
2. Timbul suara abnormal dari suspensi.
I. Penyebab
Penyebab gangguan peredam kejut tersebut bisa kemungkinan mengalami:
i. Pegas yang sudah lemah.
ii. Minyak peredam kejut yang tidak tepat. Apabila mempergunakan minyak yang
kekentalannya tidak tepat, maka peredam kejut akan terlalu lunak atau terlalu
keras.
iii. Jumlah minyak peredam kejut yang kurang atau terjadi kebocoran. Apabila
jumlah pengisian minyak kedalam peredam kejut tidak sesuai dengan ketentuan,
maka suspensi akan terasa terlalu lunak atau terlalu keras. Demikian pula
apabila terjadi kebocoran, maka tekanan terasa lunak. Oleh karena itu pengisian jumlah minyak harus sesuai dengan ketentuan.
iv. Gangguan pada bagian tutup atau tabung peredam kejut. Apabila penutup
peredam kejut bengkok, dapat memungkinkan saling bergesekan dengan tabung peredam kejut atau terhadap pegasnya. Hal ini Gangguan pada bagian tutup atau tabung peredam kejut. Apabila penutup peredam kejut bengkok, dapat memungkinkan saling bergesekan dengan tabung peredam kejut atau terhadap pegasnya. Hal ini
menimbulkan suara gesekan.
v. Kerusakan pada karet penyetop (stopper) peredam kejut. Apabila karet penyetop telah usang atau hancur, maka akan menimbulkan suara pukulan yang keras bila pergerakan peredam kejut "mentok" sampai langkah maksimumnya.
J. Perakitan kembali peredam kejut
a) Langkah perakitan merupakan kebalikan dari langkah pembongkaran.
b) Kencangkan mur-mur pemasangan dengan torsi yang ditentukan.
K. Cara mengatasi gangguan pada sistem suspensi sepeda motor.
|
No |
Gangguan |
Kemungkinan Penyebab |
|
1. |
Stang stir cenderung berbelok ke satu arah atau kendaraan tidak dapat berjalan dengan posisi lurus |
a. Penyetelan suspensi depan kiri/kanan tidak sesuai b. Terkadi kebengkokan pada pipa suspensi c. Terjadi keausan pada swing arm pivot d. Terjadi kebengkokan pada rangka/ body |
|
2. |
Suspensi depan lemah/lunak |
a. Terjadi kelemahan pada pegas suspensi b. Oli suspensi depan kurang c. Kelainan pada oli suspensi depan |
|
3. |
Suspensi depan keras |
a. Terjadi kebengkokan pada bagian-bagian suspensi b. Terjadi sumbatan pada jalur-jalur oli dalam pipa suspensi c. Kesalahan pada saat pengisian oli suspensi |
|
4. |
Suspensi belakang lemah |
a. Pegas suspensi lemah b. Kebocoran oli pada damper unit c. Penyetelan kurang tepat |
|
5. |
Suspensi depan terlalu keras |
a. Kesalahan pemasangan b. Penyetelan kurang tepat c. Swing arm pivot bengkok d. Damper rod bengkok e. Kerusakan pada swing arm pivot bearing f. Kesalahan pada susensi linkage g. Kerusakan pada linkage pivot bearing |
F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2
NAMA : FERRI ANGGRIAWAN
NIM : 2017006073
PRODI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
|
Nama Sekolah |
SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA |
|
Kompetensi Keahlian |
TEKNIK & BISNIS SEPEDA MOTOR |
|
Mata Pelajaran |
Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor |
|
Topik |
Memahami Prinsip Kerja System Suspensi |
|
Kelas/Semester |
XI OT 1 & OT 2/1 |
|
Tahun Pelajaran |
2020/2021 |
|
Alokasi Waktu |
2x60 menit |
J. Kometensi Inti:
|
KI-1 |
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya |
|
KI-2 |
Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. |
|
KI-3 (Pengetahuan): |
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional |
|
KI-4 (keterampilan): |
Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor . Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. |
K. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
NO |
Kompetensi Dasar |
Indikator Pencapaian Kompetensi |
|
1 |
Memahami Prinsip Kerja Sistem Suspensi |
Menerangkan prinsip kerja sistem suspensi |
|
Menyebutkan komponen- komponen sistem suspensi |
||
|
Menjelaskan jenis-jenis sistem suspensi |
||
|
2 |
Merawat berkala Suspensi |
Menyusun langkah perawatan sistem suspensi |
|
Melakukan perawatan berkala sistem suspensi |
||
|
Memeriksa hasil perawatan berkala sistem suspensi |
L. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pengamatan tayangan power point serta diskusi dan kerja kelompok, peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja sistem suspensi sepeda motor
2. Melalui diskusi dan kerja kelompok serta tayangan youtube tentang fungsi sistem suspensi dan komponen- komponen sistem suspensi, peserta didik mampu menguraikan jenis-jenis sistem suspensi sesuai buku manual dengan cermat dan kritis
3. Setelah mengidentifikasi teks power point, serta melalui diskusi dan kerja kelompok, peserta didik mampu memilih peralatan yang sesuai untuk melakukan perawatan berkala sistem suspensi sepeda motor secara kreatif dan bertanggung jawab.
4. Setelah melakukan praktik di Lab. TBSM, serta melalui tanya jawab dan kerja kelompok peserta didik mampu mengidentifikasi gangguan dan melakukan perawatan berkala pada sistem suspensi dengan cermat dan kritis
5. Setelah selesai praktik merawat berkala sistem suspensi, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab, serta melalui ekplorasi di internet, peserta didik mampu membandingkan hasil pemeriksaan sistem suspensi dengan buku manual dengan cermat dan kritis
6. Setelah mengidentifikasi hasil pemeriksaan ban, peserta didik mampu menyusun laporan hasil perawatan berkala pada job sheet secara kreatif dan bertanggung jawab
M.Penguatan Pendidikan Karakter (PKK)
1. Religiusitas
2. Nasionalisme
3. Kejujuran
4. Kedisiplinan
N. Materi Pembelajaran
|
MATERI REGULER |
MATERI REMIDI |
MATERI PENGAYAAN |
|
Garis besar sistem suspensi |
Garis besar sistem suspensi |
Prosendur pemeriksaan dan perawatan berkala system suspense (peredam kejut) sepeda motor |
|
Jenis sistem suspensi sepeda motor |
Jenis sistem suspensi sepeda motor |
|
|
Komponen sistem suspensi |
Komponen sistem suspensi |
|
|
Prinsip kerja peredam kejut |
Prinsip kerja peredam kejut |
|
|
Pemeriksaan dan perawatan sistem suspensi |
Pemeriksaan dan perawatan sistem suspense |
O. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran
4. Pendekatan : Blanded Learning
5. Metode : pembelajaran daring, penugasan
6. Model : e-learning
P. Media Pembelajaran
1. Media
a) Power point, Laptop, Proyektor
b) WA Group,
2. Bahan
a) Unit Sepeda Motor
b) Job sheet
c) Tools Box
3. Sumber Belajar
1. Wawan (2013), “Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor 2”, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik & Tenaga Kependidikan, Jakarta
2. Jarna, Julius (2008), “Teknik Sepeda Motor 2”, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta
3. PT. Astra Honda Motor, Buku panduan reparasi Honda
4. dan internet
Q. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
|
Tahap Pembelajaran |
Kegiatan Pembelajaran |
|
|||
|
Tatap Muka |
Online |
Sumber referensi |
|||
|
Deskripsi Kegiatan |
Alokasi Waktu |
kegiatan |
Alokasi Waktu |
||
|
Kegiatan |
|
|
|
|
|
|
Pendahuluan |
- |
|
4. Guru mengucapkan salam dan peserta didik menjawab salam 5. guru memeriksa kehadiran siswa 6. apresiasi materi pembelajaran |
10 menit |
|
|
Inti |
- |
|
Upload bahan (materi) 6. Garis besar sistem suspense 7. Jenis sistem suspensi sepeda motor 8. Komponen sistem suspense 9. Prinsip kerja peredam kejut 10. Pemeriksaan dan perawatan sistem suspensi
Upload tugas: 3. Merangkum materi yang di share 4. Menjawab soal-soal yang diberikan
|
40 menit |
Buku paket Pemeliharaan sasis sepeda motor kelas XI/1 Youtube, internet, Wawan (2013), “Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor 2”, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik & Tenaga Kependidikan, Jakarta |
|
Penutup |
|
|
4. mereview materi 5. menyimpulkan pembelajaran 6. mengucapkan salam |
10 menit |
Tanya jawab Dan moifasi |
R. Evaluasi
4. Teknik penilaian
e) Tugas
f) Ujian
g) Keaktifan diforum diskusi
h) absensi
5. Instrument
|
No |
|
No soal/ bobot nilai |
jumlah |
skor |
|||
|
Urt |
NIS |
Nama Peserta |
Interaksi peserta didik dengan materi pembelajaran |
Interaksi antar siswa |
Interaksi siswa dengan guru |
||
|
online |
online |
online |
|||||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
|
|
|
||
|
Rata-rata |
|
|
|
|
|
||
|
Persentase |
|
|
|
|
|
||
6. Instrumen penilaian pengetahuan
c) Butir soal
6) Jelaskan apa fungsi system suspense?
7) Sebutkan jenis-jenis system suspense? Dan jelaskan?
8) Sebutkan komponen-komponen sitem suspense pada sepeda motor?
9) Jelaskan apa yang dimaksud dengan sudut caster?
10) Sebagai seorang mekanik, apasaja gangguan atau kerusakan yang kerap terjadi pada system suspense sepeda motor? Dan apa penyebabnya?mkn
d) Jawaban
6) menyerap bantingan, kejutan maupun getaran dari permukaan jalan dengan tujuan meningkatkan keamanan kenyamanan dan stabilitas berkendara. selain itu juga berfungsi untuk menopang body dan rangka sepeda motor untuk menjaga letak geometris antara body dan roda-roda
7) 1. Suspensi Bagian Depan (Front Suspension)
Suspensi depan yang terdapat pada sepeda motor pada umumnya terbagi tiga, yaitu:
d. Garpu batang bawah (bottom link fork); jenis ini biasanya dipasang pada sepeda motor bebek model lama, vespa atau scooter.
e. Garpu teleskopik (telescopic fork); merupakan jenis suspensi yang paling banyak digunakan pada sepeda motor. Suspensi teleskopik terdiri dari dua garpu (fork) yang dijepitkan pada steering yoke. Garpu teleskopik menggunakan penahan getaran pegas dan oli (minyak pelumas) garpu. Pegas menampung getaran dan benturan roda dengan permukaan jalan dan oli garpu mencegah getaran diteruskan ke batang kemudi. Garpu depan dari sistem kemudi (yang termasuk kedalam suspensi depan) fungsinya untuk menopang goncangan jalan melalui roda depan dan berat mesin serta penumpang. Oleh karenanya garpu depan harus mempunyai kekuatan, kekerasan yang tinggi, selain caster dan trail (kesejajaran roda depan) yang berpengaruh besar pada kestabilan mesin.
f. Up side down; jenis suspensi ini banyak diterapkan pada sepeda motor kapsitas besar, seperti Yamaha R1 & R6, Suzuki GSX 600, dll. Tipe ini pada dasarnya hampir sama dengan tipe garpu teleskopik, hanya saja jika pada tipe garpu teleskoik tabung fluida redam terletak di bawah, maka pada tipe ini justru sebaliknya, tabung fluida redam terletak di atas.
8) .
· Sil debu
· Cincin stopper
· Sil oli
· Tabung garpu
· Torak garpu
· Cincin torak garpu
· Pegas garpu
· Baut garpu
· Pegas reaksi
9) Caster adalah sudut kemiringan sumbu vertikal roda, artinya roda depan dapat berbelok karena bergerak pada sumbu vertikal. Caster, akan mengatur sudut kemiringan sumbu vertikal ini. Jadi posisi belok roda tidak 0 derajat vertikal.
10) Gangguan suspensi
a. gangguan :suspensi depan atau belakang terlalu keras / lemah dan timbul suara abnormal dari suspensi
b. penyebab :
- Pegas yang sudah lemah.
- Minyak peredam kejut yan tidak tepat. Apabila menggunakan minyak yang kekentalannya tidak tepat, maka suspensi akan terlalu lunak atau terlalu keras
- Jumlah minyak suspensi yang kurang atau terjadinya kebocoran. Apanila jumlah pengisian minyak ekdalam suspensi tidak sesuai, maka suspensi akan terasa terlalu lunak atau terlalu keras. Demikian pula apabila terjadi kebocoran, maka suspensi akan terasa lunak
- Apabila penutup suspensi bengkok, memungkinkan saling bergesekan dengan tabung suspensi atau terhadap pegasnya dan menimbulkan gesekan.
- Apabila karet penyetop ( seal oil ) telah usang atau hancur, maka akan menimbulkan suara pukulan yang keras bila pergerakan peredam kejut “ mentok “ sampai langkah maksimalnya.
K. Pedoma penskoran
|
No. soal |
Pedoman penskoran |
Skor maksimal |
||||
|
Menjawab dengan benar disertai pengembangan
|
Menjawab dengan benar |
Menjawab salah |
Soal di tulis ulang |
Tidak dijawab |
||
|
1 |
15 |
13 |
2 |
0,5 |
0 |
15 |
|
2 |
20 |
18 |
2 |
0,5 |
0 |
20 |
|
3 |
20 |
18 |
2 |
0,5 |
0 |
20 |
|
4 |
30 |
28 |
2 |
0,5 |
0 |
30 |
|
5 |
15 |
13 |
2 |
0,5 |
0 |
15 |
|
Maksilal skor |
100 |
90 |
10 |
5 |
0 |
100 |
L. Rumus penilaian
Data hasil penilaian pengetahuan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟=Σ Skor yang dijawab benar 10
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚
Catatan Kurikulum dan Kepala Sekolah Tentang Perbaikan RPP:
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
|
Guru
Fatkurohman S.T |
Way tuba, 23 september 2020
Mahasiswa
Ferri Anggriawan |
MATERI AJAR
Bahan ajar Sistem suspensi Sepeda Motor
4. Deskripsi
Materi suspensi yang terdiri dari pembelajaran 1 dan 2 ini menjelaskan tentang jenis-jenis suspensi baik suspensi depan maupun suspense belakang sepedamotor, disamping itu juga tercakup bagaimana cara pemeriksaaan dan perbaikan gangguan yang terjadi pada sistem suspensi
5. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu
1. Menjelaskan jenis-jenis suspensi
2. Menjelaskan cara kerja system suspensi
3. Memeriksa komponen system suspensi
4. Memperbaiki gangguan yang terjadi pada system suspensi
6. Pendahuluan
Sistem Peredam Kejut Sepeda Motor
L. Pengertian
Sistem peredam kejut merupakan salah satu bagian pada chasis sepeda motor yang berfungsi menyerap bantingan, kejutan maupun getaran dari permukaan jalan dengan tujuan meningkatkan keamanan, kenyamanan dan stabilitas berkendara. Selain itu sistem peredam kejut juga berfungsi untuk menopang body dan rangka sepeda motor untuk menjaga letak geometris antara body dan roda-roda.
Prinsip kerja sistem peredam kejut adalah sebagai berikut :
|
|
Garis diagram pada gambar di samping ini menjelaskan bahwa hanya dengan pegas saja tidak sanggup untuk menyerap goncangan akibat kondisi jalanan. Karena goncangan yang diterima pegas akan dikembalikan lagi sehingga pegas akan bekerja dengan gerakan mengayun. Dalam hal ini pengendara sepeda motor tidak nyaman dan berbahaya. |
|
|
Jika memakai peredam kejut seperti gambar di samping, maka goncangan yang di terima telah diserap untuk sebagian besar oleh peredam kejut sehingga pengendalian |
M. Bagian Utama istem Peredam kejut Belakang
Cushion unit/shock absorber (peredam kejut) diletakkan antara ujung belakang dari lengan dan rangka (frame). Konstruksi peredam kejut depan adalah sebagai berikut:
|
|
Keterangan gambar: 1. Upper mounting eye 2. Nut 3. Rubber stop 4. Shroud (decorative only) 5. Damper rod 6. Spring 7. Oil seal 8. Inner spring 9. Damper valve 10. Damper piston 11. Spring seat 12. Damper body 13. Compression valve 14. Lower mounting eye |
N. Prinsip kerja
|
|
Ditekan (compression cycle) Saat shock absorber ditekan karena gaya osilasi dari pegas suspensi, maka gerakan yang terjadi adalah shock absorber mengalami pemendekan ukuran. Pada saat inilah piston bergerak turun ke bawah. Fluida shock absorber yang berada di bawah piston akan naik keruang di atas piston melalui lubang yang ada pada piston. Sementara lubang kecil (orifice) pada piston tertutup karena katup menutup saluran orifice tersebut. |
Penutupan katup ini disebabkan karena peletakkan katup yang berupa membran (plat tipis) dipasangkan di bawah piston, sehingga ketika fluida shock absorber berusaha naik ke atas maka katup membran ini akan terdorong oleh fluida shock absorber dan akibatnya menutup saluran oriface. Jadi fluida shock absorber akan menuju ke atas melalui lubang yang besar pada piston, sementara fluida tidak bisa keluar melalui saluran oriface di piston. Pada saat ini shock absorber tidak melakukan peredaman terhadap gaya dari osilasi pegas suspensi, karena fluida dapat naik ke ruang di atas piston dengan sangat mudah.
Memanjang (extension cycle)
Pada saat memanjang piston di dalam tabung akan bergerak dari bawah naik ke atas. Gerakan naik piston ini membuat fluida shock absorber yang sudah berada di atas menjadi tertekan. Fluida shock absorber ini akan mencari jalan keluar agar tidak tertekan oleh piston terus. Maka fluida ini akan mendorong katup pada saluran orifice untuk membuka dan fluida akan keluar atau turun ke bawah melalui saluran orifice. Pada saat ini katup pada lubang besar di piston akan tertutup karena letak katup ini yang berada di atas piston. Fluida shock absorber ini menekan katup lubang besar di piston ke bawah dan berakibat katup ini tertutup. Tapi letak katup saluran oriface membuka karena letaknya yang berada di bawah piston, sehingga ketika fluida shock menekan ke bawah katup ini membuka. Pada saat ini fluida shock absorber hanya dapat turun ke bawah melalui saluran oriface yang kecil. Karena salurannya yang kecil maka fluida shock absorber tidak akan bisa cepat turun ke bawah alias terhambat. Di saat inilah shock absorber melakukan peredaman terhadap gaya osilasi pegas suspensi.
O. Jenis Peredam kejut
Ada beberapa macam jenis shock absorber menurut gaya redam, kontruksi dan media pengisi.
2) Gaya Redam
Menurut gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu single action dan double action.
e) Single Action
Gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber hanya terjadi pada langkah memanjang (ekspansion stroke) sedangkan pada langkah memendek (compression stroke) tidak terjadi gaya redam.
f) Double Action
Gaya redam yang dihasilkan oleh shock absorber terjadi pada langkah memanjang (ekspansion stroke)dan langkah memendek (compression stroke).
g) Kontruksi
Menurut kontruksinya shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu mono tube dan twin tube.
3) Mono Tube
|
|
Hanya terdiri dari satu tabung dan posisi tabung berada pada bagian atas. Bagian utama terdiri dari tutup (cover), silinder bagian atas (upper chamber), silinder bagian bawah (lower chamber) dan piston dilengkapi lubang-lubang kecil (orifice) sebagai katup. |
Cara kerja pada saat compresion stroke terjadi fluida tertekan mengalir dari silinder bagian bawah ke silinder bagian atas melalui katup pada piston. Karena perpindahan fluida melalui lubang-lubang kecil pada katup, terjadi tahanan yang mengakibatkan peredam getaran. Sedangkan pada saat ekspansion stroke terjadi fluida akan mengalir dengan arah berlawanan. Fluida akan kembali mengalir dari silinder bagian atas ke silinder bagian bawah melalui katup pada piston. Dengan kembalinya fluida, maka tahanan fluida menjadikan sebagai peredam getaran.
4) Twin Tube
Cara kerja pada saat compresion stroke terjadi fluida tertekan mengalir dari silinder dalam bagian bawah ke silinder dalam bagian atas melalui katup pada piston. Fluida juga mengalir dari silinder dalam ke silinder luar, melalui katup kontrol yang berada pada dasar silinder. Karena perpindahan fluida ini, menjadikan peredam getaran. bekerja. Peredam terhadap getaran yang terjadi pada roda-roda, ditimbulkan oleh tahanan mengalir dengan arah yang berlawanan. Fluida akan kembali mengalir dari silinder dalam bagian atau ke silinder dalam bagian bawah, melalui katup pada piston. Demikian juga fluida yang ada di silinder luar mengalir kembali ke silinder dalam melalui katup kontrol. Dengan kembalinya fluida, tahanan aliran menjadikannya sebagai peredam getaran.
h) Media Pengisi
Menurut media pengisi shock absorber dibagi dalam dua jenis yaitu oil type dan gas type.
iii. oil type
Tabung dalam (cylinder) berisi penuh dengan oli pada saat peredam kejut bekerja, oli akan mengisi sebagian ruang pada tabung luar.
iv. gas type
|
|
Tabung dalam (cylinder) berisi penuh dengan oli dan dimasukkan gas nitrogen bertekanan yang akan mengisi ruang pada tabung luar pada saat bekerja. |
Jenis sistem peredam kejut depan yang umum digunakan pada sepeda motor diantaranya:
|
3. Peredam kejut Bottom Link: c. Leading Link Type
d. Trailling Link Type
|
Keuntungan : Pada saat pengereman, konstruksi link akan menaikkan bagian depan kendaraan, sehingga gejala kendaraan menukik akibat pengereman dapat diminimalisir. Kerugian: · Adanya link dan engsel menyebabkan sistem peredam kejut ini memerlukan perawatan dan pelumasan rutin. · Keausan bushing pada bagian engsel link akan menyebabkan kedudukan roda miring terhadap sumbu geometrinya. · Kurang nyaman digunakan pada kecepatan tinggi maupun off road.
|
|
4. Peredam kejut teleskopik
|
Keuntungan : · Tidak memerlukan perawatan ekstra seperti halnya pada system peredam kejut bottom link. · Kenyamanan dan keamanan pada kecepatan tinggi tetap terjaga. · Kerugian : · Bagian depan kendaraan cenderung menukik pada saat pengereman, sehingga kemungkinan pengendara terjungkal pada saat pengereman mendadak, menjadi lebih besar. |
P. Sistem peredam kejut belakang
Sistem peredam kejut belakang yang umum digunakan pada sepeda motor menggunakan swing arm pivot sebagai penunjang dan penahan rear axle. Penggunaan swing arm pivot memberikan reaksi yang cepat pada roda untuk bervariasi di berbagai kondisi jalan, disamping itu memiliki kemampuan mengontrol gerakan roda dengan baik sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan berkendara. Prinsip kerja macam-macam peredam kejut roda belakang sebagai berikut.
|
Jenis Peredam Kejut |
Cara Kerja |
|
3. Friction damper
|
Prinsip kerjanya sangat sederhana, dimana untuk pengganti oli sebagai peredam gerakan per dan suspense dilakukan oleh piston yang memiliki ring non metalik (biasanya dari bahan plastik) yang dipasangkan pada bagian atas piston. Ring piston dari bahan non metalik tersebut berfungsi meredam gerakan rod yang menekan dinding bagian dalam silinder yang dilapisi oleh gemuk (grease). |
|
4. Oil damper
|
Oil damper berfungsi mengontrol gerakan pegas suspensi (naik maupun turun) melalui lubang-lubang saluran yang berrada di piston damper Gerakan menahan yang dilakukan oleh piston damper didapatkan dari oli yang meredam gerakan pegas, melalui perubahan lubang keluar masuknya oli pada saat piston bergerak turun naik. |
Pada saat piston bergerak turun (menekan), oli menahan gerakan tersebut melalui sebagian besar aliran oli yang masuk melalui damping orifice, reaksi terjadi akibat gerakan roda yangmenyentuh secara tiba-tiba bagian jalanan yang menonjol. Pada saat tekanan pegas mengembalikan rod bergerak ke atas (memanjang) maka gerakan akan tertahan dengan lembut, karena adanya tekanan oli dari damping oil melalui lubang-lubang kecil orifice.
Jenis-jenis peredam kejut roda belakang sepeda motor diantaranya:
4. Swing arm type
Suspensi belakang jenis swing arm memberikan kenyamanan dalam pengendaraan serta membantu daya tarik dan kemampuan mengontrol gerakan roda yang baik. Pada umumnya semua sepeda motor menggunakan sistem kerja dasar suspensi belakang seperti ini. Suspens belakang dengan sistem dasar swing arm ini dirancang untuk beberapa jenis, bergantung dari kebutuhan sistem redamnya serta disain daris swing arm nya.
|
|
1. Rear arm component 2. Bush 1 3. Shaft, Pivot 4. Nut, Nylon 5. Seal, Guard 6. Guard, Chain 7. Bolt, Flange 8. Washer, Spring 9. Nut, Hexagon 10. Support, Chain 11. Screw, With Washer 12. Shock Absorber Assembly, Rear Native Red 13. Washer, Plate 14. Nut 15. Bolt, Hexagon |
5. Unit swing type
|
|
Kontruksi tipe unit swing adalah mesin itu sendiri yang bereaksi seperti lengan yang berayun. Jadi mesin tersebut yang berayun. Tipe sistem suspensi ini digunakan untuk sepeda motor scooter dan sebagian moped. |
Umumnya suspensi tipe unit swing dipakai pada sepeda motor yang mempunyai penggerak akhirnya (final drive) memakai sistem poros penggerak. Ada dua jenis type suspensi ini yaitu Double Suspensi dan Monoshoc.
c. Double Suspension
|
|
Jenis ini mempunyai dua peredam kejut yang mendukung bagian belakang frame body dan swing arm. Suspensi ini umum digunakan, karena sangat sederhana proses pemasangan, jumlah komponen yang lebih sedikit, serta mempunyai sistem dasar yang ekonomis. |
d. Monoshock
|
|
Jenis suspensi ini mempunyai satu peredam kejut yang mendukung bagian belakang frame body dan bagian swing arm. Suspensi ini memiliki kontruksi yang rumit, tetapi lebih stabil dibanding jenis double suspension. Banyak digunakan pada sepeda motor modern untuk keperluan sport. |
6. Monocross suspension
|
|
Tipe ini merupakan swing arm tetapi memiliki bentuk dan posisi bantalan dari cushion unit yang unik. Sistem monocross suspension merupakan hasil penemuan asli dari Mr. Telkens berasal dari Belgia dan sistem ini dikembangkan jauh oleh Yamaha untuk penggunaan yang praktis pada racing dan mesin sport sebaik mesin jarak jauh. |
Konstruksi dan cara kerjanya suspensi monocross menyatu pada struktur keseluruhan dari frame, swing arm dan cushion unit. Cushion ini menggunakan gas inert (nitrogen), oli pegas dan karet sebagai peredam kejutan untuk menghasilkan bantalan yang empuk. Bahan cushion ini berbeda dengan sebelumnya yang dipasang dengan posisi tegak, damper olinya terpisah dari gas tekanan tinggi yang dipisahkan oleh base valve dan membran karet yang kemudian dimampatkan. Karena keadaan ini, meskipun unitnya dimiringkan proses aerasi (penetrasi udara ke oli) tidak akan terjadi, sehingga tingkat kelembaban yang stabil dapat terjadi.
Q. Pemeriksaan dan perawatan peredam kejut depan
|
NO |
Jenis Kendaraan |
Prosedur Pemeriksaan |
|
1. |
Kebocoran Peredam kejut
|
c. Amati secara visual pada bagian yang diberi anak panah, apakah terdapat kebocoran oli atau tidak. d. Jika terjadi kebocoran, maka peredam kejut mesti diperbaiki |
|
11. |
Memeriksa kelurusan geometri roda
|
d. Luruskan stang stir, periksa kelurusan antara roda depan dan belakang e. Apabila roda depan dan belakang tidak segaris, periksa posisi chain adjuster dari ketepatan posisinya antara sisi kiri dan kanan. f. Apabila roda depan dan belakang terlihat miring ke satu arah, lakukan pemeriksaan pada bagian-bagian swing arm ataupun suspensi depan dar kebengkokan/rangka yang terpuntir. |
|
12. |
Periksa keadaan pegas suspensinya
|
Ukur panjang pegas dalam keadaan pegas terlepas. Jika panjang pegas melebihi ketentuan, pegas harus diganti. |
|
13. |
Memeriksa suspensi depan (teleskopik)
|
Memeriksa kerja sistem suspensi depan dengan menekan bagian depan sepeda motor beberapa kali (dengan rem ditahan). Gerakan kepegasan harus berlangsung dengan lembut dan lancar, setelah ditekan pegas harus kembali ke posisi semula dengan sedikit tahanan. |
|
14. |
Melakukan pembongkaran komponen suspensi depan
|
i. Membuka bagian-bagian: spakbor depan, baut penjepit garpu dan kaki garpu depan. CATATAN : Waktu garpu akan dibongkar, kendorkan baut garpu, tapi jangan dilepaskan dulu.
ii. Lepaskan baut garpu. AWAS!! Baut garpu berada di bawah tekanan pegas. Berhati-hatilah saat melepaskannya. iii. Lepaskan pegas garpu, keluarkan fluida garpu dengan memompa tabung garpu ke atas dan ke bawah beberapa kali. iv. Lepaskan sil debu dan cincin stopper sil oli. v. Tahan penggeser garpu pada ragum dengan pemegang lunak atau lap bengkel. Lepaskan baut soket garpu dengan hex wrench. vi. Lepaskan torak garpu dan pegas reaksi dari tabung garpu, |
|
15. |
Pemeriksaan Tabung garpu / slider/ Torak
|
i. Periksa tabung garpu, slider garpu dan torak garpu terhadap gerusan, dan keausan yang berlebihan atau tidak. ii. Periksa cincin torak garpu terhadap keausan atau kerusakan. iii. Periksa pegas reaksi terhadap keausan atau kerusakan. |
|
16. |
Melakukan pemeriksaan komponen peredam kejut roda depan
|
Letakkan tabung garpu pada blok-V dan ukur keolengan. Keolengan yang sebenarnya adalah 1/2 dari pembacaan total indikator. Bandingkan dengan keolengan yang diijinkan. |
|
17. |
Melakukan perakitan dan pemasangan komponen suspensi depan
|
Sebelum dipasang, semua komponen dicuci dengan air atau larutan yang tidak mudah terbakar dan keringkan. Pasang pegas reaksi dan torak garpu ke dalam tabung garpu. Pasang tabung garpu pada slider garpu.
|
|
18. |
|
Topang penggeser garpu pada catok dengan pemegang lunak atau lap bengkel. Lumasi larutan pengunci ulir baut soket garpu dan pasang dan kencangkan baut soket dengan cincin washer perapat yang baru pada torak garpu.
Pasang sil oli dan dorong masuk dengan menggunakan kunci perkakas khusus.
Pasang cincin stopper sil oli pada alur slider garpu dengan kencang.
Pasang sil debu
Tuang fluida untuk garpu yang dianjurkan sesuai jumlah yang telah ditentukan ke dalam tabung garpu. Minyak Garpu Yang Dianjurkan: ATF Kapasitas Minyak Garpu: 62 Cc Pompa tabung garpu beberapa kali untuk mengeluarkan udara palsu dari bagian bawah tabung garpu.
|
|
19. |
Susunan peredam kejut teleskopik setelah dirakit. |
|
R. Pemeriksaan dan perawatan peredam kejut belakang
6. Pelepasan Lengan Ayun

Lepaskan komponen-komponen berikut:
- Roda belakang
- Knalpot
Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kanan. Lepaskan kait pegas pengembali pedal rem dari lengan ayun.
Lepaskan baut-baut pemasang dan mur pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kiri lalu lepaskan pemegang dan pijakan kaki pembonceng sebelah kiri. Lepaskan pijakan kaki pembonceng sebelah kiri.

Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kiri.

Lepaskan pelapis tutup rantai roda.
7. Pembongkaran Lengan Ayun
Lepaskan komponen-komponen
berikut:
- Pin cotter
- Mur, cincin washer rata dan cincin
washer pegas
- Baut stopper
- Lengan stopper panel rem
8. Pemeriksaan Lengan Ayun
Periksa bos engsel terhadap keausan atau kerusakan. Periksa lengan ayu terhadap keretakan atau kerusakan
9. Perakitan Lengan Ayun
Pasang lengan stopper rem belakang, baut, cincin washer pegas, cincin washer rata, dan mur. Pasang mur dengan kencang. Pasang pin cotter yang baru untuk mengamankan mur.
10. Pemasangan Lengan Ayun
Pasang rantai roda dan pasang lengan ayun pada rangka. Masukkan baut
engsel dari sisi kiri dan untuk sementara kencangkan mur engsel. Pasang baut-baut pemasangan bagian bawah peredam kejut dan kencangkan. Pasang pelapis tutup rantai roda.
|
No |
Jenis pemeriksaan |
Prosedur pemeriksaan |
|
7. |
Memeriksa kerja sistem suspensi belakang |
Pemeriksaan kerja sistem suspense belakang dilakukan dengan cara menekan bagian belakang sepeda motor beberapa kal (dengan rem ditahan). Gerakan kepegasan harus berlangsung dengan lembut dan lancar, setelah ditekan pegas harus kembali ke posisi semula dengan sedikit tahanan. |
|
8. |
Pemeriksaan komponen suspensi yang aus atau kendor |
Menempatkan sepeda motor pada standar utama, goyangkan lengan ayun ke kanan-kiri. Jika ada kekocakan, periksa baut engsel dan bos lengan ayun. |
|
9. |
Pelepasan lengan ayun |
9. Lepaskan roda belakang dan knalpot 10. Lepaskan baut, cincin washer dan pemegang pijakan kaki pembonceng sebelah kanan dan kiri.
11. Lepaskan kait pegas pengembali pedal rem dari lengan ayun. 12. Lepaskan mur-mur pemasangan peredam kejut bagian bawah dan cincin-cincin washer. 13. Lepaskan mur engsel lengan ayun, baut dan lengan ayun. 14.
|
|
10. |
Pemeriksaan lengan ayun |
5. Periksa bos engsel terhadap keausan atau kerusakan. 6. Periksa lengan ayun terhadap keretakan atau kerusakan. 15. 16. Gambar 65. Pemeriksaan Lengan Ayun |
|
11. |
Pelepasan Peredam Kejut (Shock Absorber) |
3. Topang sepeda motor pada standar tengah. 4. Lepaskan tutup bodi, lepaskan mur pemasangan bagian atas peredam kejut, cincin washer dan pegangan belakang. 7.
8. Gambar 66. Pelepasan Peredam Kejut |
|
12. |
Pemeriksaan Peredam Kejut |
3. Periksa apakah ada kerusakan pada peredam kejut. 4. Periksa hal-hal berikut: § Batang peredam terhadap kebengkokan atau kerusakan § Unit peredam terhadap perubahan bentuk atau kebocoran oli § Bos penyambung bagian atas dan bawah terhadap keausan atau kerusakan § Periksa kehalusan cara kerja peredam secara keseluruhan. |
S. Gangguan
Gangguan yang sering terjadi pada peredam kejut sepeda motor adalah:
1. Suspensi depan atau belakang terlalu lemah/keras.
2. Timbul suara abnormal dari suspensi.
T. Penyebab
Penyebab gangguan peredam kejut tersebut bisa kemungkinan mengalami:
i. Pegas yang sudah lemah.
ii. Minyak peredam kejut yang tidak tepat. Apabila mempergunakan minyak yang
kekentalannya tidak tepat, maka peredam kejut akan terlalu lunak atau terlalu
keras.
iii. Jumlah minyak peredam kejut yang kurang atau terjadi kebocoran. Apabila
jumlah pengisian minyak kedalam peredam kejut tidak sesuai dengan ketentuan,
maka suspensi akan terasa terlalu lunak atau terlalu keras. Demikian pula
apabila terjadi kebocoran, maka tekanan terasa lunak. Oleh karena itu pengisian jumlah minyak harus sesuai dengan ketentuan.
vi. Gangguan pada bagian tutup atau tabung peredam kejut. Apabila penutup
peredam kejut bengkok, dapat memungkinkan saling bergesekan dengan tabung peredam kejut atau terhadap pegasnya. Hal ini Gangguan pada bagian tutup atau tabung peredam kejut. Apabila penutup peredam kejut bengkok, dapat memungkinkan saling bergesekan dengan tabung peredam kejut atau terhadap pegasnya. Hal ini
menimbulkan suara gesekan.
vii. Kerusakan pada karet penyetop (stopper) peredam kejut. Apabila karet penyetop telah usang atau hancur, maka akan menimbulkan suara pukulan yang keras bila pergerakan peredam kejut "mentok" sampai langkah maksimumnya.
U. Perakitan kembali peredam kejut
a) Langkah perakitan merupakan kebalikan dari langkah pembongkaran.
b) Kencangkan mur-mur pemasangan dengan torsi yang ditentukan.
V. Cara mengatasi gangguan pada sistem suspensi sepeda motor.
|
No |
Gangguan |
Kemungkinan Penyebab |
|
6. |
Stang stir cenderung berbelok ke satu arah atau kendaraan tidak dapat berjalan dengan posisi lurus |
a. Penyetelan suspensi depan kiri/kanan tidak sesuai b. Terkadi kebengkokan pada pipa suspensi c. Terjadi keausan pada swing arm pivot d. Terjadi kebengkokan pada rangka/ body |
|
7. |
Suspensi depan lemah/lunak |
a. Terjadi kelemahan pada pegas suspensi b. Oli suspensi depan kurang c. Kelainan pada oli suspensi depan |
|
8. |
Suspensi depan keras |
a. Terjadi kebengkokan pada bagian-bagian suspensi b. Terjadi sumbatan pada jalur-jalur oli dalam pipa suspensi c. Kesalahan pada saat pengisian oli suspensi |
|
9. |
Suspensi belakang lemah |
a. Pegas suspensi lemah b. Kebocoran oli pada damper unit c. Penyetelan kurang tepat |
|
10. |
Suspensi depan terlalu keras |
a. Kesalahan pemasangan b. Penyetelan kurang tepat c. Swing arm pivot bengkok d. Damper rod bengkok e. Kerusakan pada swing arm pivot bearing f. Kesalahan pada susensi linkage g. Kerusakan pada linkage pivot bearing |
G. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 3 dan 4
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
NAMA : FERRI ANGGRIAWAN
NIM : 2017006073
PRODI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
|
Nama Sekolah |
SMK TUNAS WIYATA WAY TUBA |
|
Kompetensi Keahlian |
TEKNIK & BISNIS SEPEDA MOTOR |
|
Mata Pelajaran |
Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor |
|
Topik |
Memahami sistem rem Hidrolik Sepeda Motor |
|
Kelas/Semester |
XI OT 1 & OT 2/1 |
|
Tahun Pelajaran |
2020/2021 |
|
Alokasi Waktu |
2x60 menit |
A. Kompetensi Inti:
|
KI-3 (Pengetahuan): |
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional |
|
KI-4 (Keterampilan): |
Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Teknik dan Bisnis Sepeda Motor . Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. |
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
KompetensiDasar |
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
|
3.1. Memahami prinsip kerja system rem hidrolik
4.1. Merawat sistem rem hidrolik |
3.1.1 Mengetahui konsep kerja sistem hidrolik 3.1.2 Mengetahui komponen-komponen sistem hidrolik
4.1.1 Mengetahui fungsi komponen sistem hidrolik
4.1.2 Melakukan perawatan komponen sistem hidrolik sepeda motor |
C. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pengamatan tayangan video serta diskusi dan kerja kelompok, peserta didik mampu menguraikan prosedur pengujian kerja sistem rem hidrolik dengan cermat
2. Melalui diskusi dan kerja kelompok serta tayangan power point , peserta didik mampu
mengklasifikasikan komponen-komponen sistem rem hidrolik dengan cermat dan tepat
3. Setelah mengidentifikasi teks power point, serta melalui diskusi dan kerja
kelompok,peserta didik mampu menguji kerja sistem rem hidrolik dengan benar
4. Setelah melakukan praktik, peserta didik mampu melakukan prosedur perawatan sistem
hidrolik sesuai SOP
5. Setelah selesai praktik pemeriksaan sistem rem mekanik, peserta didik dapat menyusun
laporan hasil pengujian sistem rem hidrolik secara sistematis
D. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK):
1. Religiusitas
2. Nasionalisme
3. Kejujuran
4. Kedisiplinan
E. Materi Pembelajaran
|
MATERI REGULER |
MATERI REMIDI |
MATERI PENGAYAAN |
|
Prinsip kerja sistem rem hidrolik sepeda motor |
Prinsip kerja sistem rem hidrolik sepeda motor |
Prosedur cara melakukan perawatan berkala pada sistem rem mekanik sepeda motor |
|
Bagian-bagian komponen sistem rem hidrolik sepeda motor |
Bagian-bagian komponen sistem rem hidrolik sepeda motor |
|
|
Prosedur perawatan berkala sistem rem hidrolik sepeda motor |
Prosedur perawatan berkala sistem rem hidrolik sepeda motor |
F. Pendekatan, Metode Dan Model Pembelajaran
|
1. |
Pendekatan |
: Saintifik-TPACK |
|
2. |
Metode |
: Diskusi, Tanya Jawab, Demontrasi, Praktek dan Penugasan |
|
3. |
Model |
: Cooperative Learning Tipe STAD |
G. Media Pembelajaran, Alat, Sumber Belajar
1. Media
a. Power point, Laptop, Proyektor b. Unit kendaraan sepeda motor
c. Internet
d. materi perbaikan sistem rem hidrolik
2. Alat dan Bahan
a. laptop, HP Android dan jaringan internet b. Job sheet
c. Tools Box
d. Unit sepeda motor
3. Sumber Belajar
a. Teknik Sepeda Motor Jilid 3 untuk SMK /oleh Jalius Jama, Wagino ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
b. Pemeliharaan Sasis Sepeda Motor oleh Rofiq Ali Muhsin dan Mohammad. Penerbit
ERLANGGA.2019
c. Buku-buku referensi yang relevan dengan materi pelajaran
d. Internet
H. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
|
Tahap pembelajaran |
Deskripsi kegiatan |
|||
|
|
Tatap muka |
Alokasi waktu |
On line |
Alokasi waktu |
|
Kegiatan Pendahuluan |
|
|
1. Guru bersama peserta didik saling memberi dan menjawab salam. 2. Guru melakukan presensi peserta didik 3. Tahap 1: Penyampaian tujuan dan motifasi peserta didik
|
10 menit |
|
Kegiatan Inti |
|
|
1) Searching bahan/materi Google, (youtube) 2) https://www.youtube.com/watch?v=O48hZM6UxRA 3) https://www.youtube.com/watch?v=O48hZM6UxRA 4) Memberi file materi dan Soal melalaui group kelas WhatsApp 5) Menganalisis gangguan system Rem Hidrolik sepeda motor 6) Merawat dan memperbaiki gangguan pada system Rem Hidrolik sepeda motor
|
40 menit |
|
Kegiatan penutup |
|
|
1. Share file Quis di WhatsApp Group 2. Kegiatan belajar ditutup dengan Salam dari Guru. |
10 menit |
I. Penilaian Hasil Belajar
1. Instrumen dan Teknik Penilaian
a) Teknik penilaian
1) Tes tertulis
2) Observasi tertulis (essay)
b) Instrumen
1) Soal tes tertulis
2) Soal tes untuk kerja
Lampung, 04 Desember 2020
Mengetahui,
|
Kepala Sekolah
Tisnawati, S.Pd., M.M |
Guru Mata Pelajaran
Faturahman, S.T |
Materi
Sistem Rem Sepeda Motor
Kendaraan tidak dapat segera berhenti walaupun katup gas ditutup penuh dan mesin tidak lagi dihubungkan dengan pemindah daya, akan tetapi mempunyai kecenderungan untuk tetap bergerakkarena gaya kelembamannya. Kelemahan ini harus diatasi dengan maksud menurunkan/mengurangi kecepatan kendaraan hingga berhenti. Sistem rem dirancang untuk mengontrol kecepatan/laju (mengurangi/ memperlambat kecepatan dan menghentikan laju) kendaran.
A. Rem Hidrolik Cakram (Disc Brake)
Konstruksi rem cakram pada umumnya terdiri atas cakram (disc rotor) yang terbuat dari besi tuang yang berputar dengan roda, bahan gesek (disc pad) yang menjepit & mencengkeram cakram, serta kaliper rem yang berfungsi untuk menekan & mendorong bahan gesek sehingga diperoleh daya pengereman. Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara bahan gesek dan cakram. Self energizing effect yang terjadi pada rem cakram sangat kecil, sehingga diperlukan tekanan pengereman yang lebih besar untuk mendapatkan daya pengereman yang efisien dan pad cenderung lebih cepat aus dibanding dengan sepatu rem pada rem tromol. Akan tetapi disamping kelemahan tersebut rem cakram mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya : konstruksi sederhana, penggantian pad mudah, tanpa penyetelan, bidang gesek selalu terkena u dara sehingga radiasi panasnya sangat baik dan water recovery sangat baik karena air akan terlempar keluar dari permukaan cakram dan pad karena adanya gaya sentrifugal. Menurut mekanisme penggeraknya, rem cakram sepeda motor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu rem cakram penggerak mekanik, rem cakram penggerak hidrolik.
1. Rem Hidrolik
Rem hidrolik adalah mekanisme system rem yang menggunakan fluida sebagai media transper untuk meneruskan tenaga penekanan pedal rem sampai ke unit rem, dalam hal ini konstruksi system rem yang umum digunakan pada system rem hidrolik adalah konstruksi cakram (disc)
Gambar Rem Caktam.

Cara kerja rem cakram penggerak mekanik :
a) Kabel rem akan menarik tuas rem (brake arm) ke atas.
b) Pergerakan/perputaran tuas rem mendorong “thrust plateguide” ke depan sehingga pada menempel ke atas cakram.
c) Gesekan antara pad A dan pad B pada cakram akan memberikan tahanan gesek yang melawan perputaran cakram.
2. Rem cakram penggerak hidrolik
Rem cakram penggerak hidrolik banyak digunakan pada sepeda motor pada umumnya. Mekanisme penggerak sistem rem tipe hidrolik memanfaatkan tenaga hidrolik (fluida/cairan) untuk meneruskan tenaga pengereman dari pedal/handel rem ke sepatu rem/pad rem. Mekanisme penggerak hidrolik berpedoman kepada hukum Pascal : bila suatu fluida/cairan dalam ruang tertutup diberi tekanan maka tekanan tersebut akan diteruskan ke semua arah dengan rata. Gaya penekanan pada pedal/handel rem akan diubah menjadi tekanan fluida oleh piston master silinder, kemudian diteruskan ke silinder roda/kaliper rem melalui pipa/slang rem untuk menghasilkan gaya pengeremansa Rem penggerak hidrolik mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan penggerak mekanik, yaitu :
a) Fluida mempunyai sifat tidak dapat dimampatkan, dan pada sistem rem hidrolik tidak terjadi kerugian gesekan/penurunan tekanan karena sambungan/engsel seperti halnya pada mekanisme penggerak rem mekanik sehingga rem lebih responsif.
b) Gaya pengereman yang diperlukan untuk mengoperasikan rem relatif ringan
c) Bebas penyetelan
3) Komponen-komponen rem cakram penggerak hidrolis:
a) Master cylinder, mengubah gerak pedal/tuas rem ke dalam tekanan hidrolis. Master cylinder terdiri atas reservoir tank yang berisi minyak rem, piston dan silinder yang membangkitkan tekanan hidrolis.
b) Piringan rem (Cakram), pada umumnya dibuat dari besi tuan yang diberikan lubang pada permukaan geseknya untuk ventilasi dan menampung kotoran/debu yang menempel pada permukaan cakram maupun pada brake pad. Brake pad/disc pad, terbuat dari campuran metallic fiber dan sedikit serbuk besi (biasa disebut semi metallic disc pad). Pada beberapa pad, penggunaan metallic plate (anti-sequel shim) dipasangkan pada sisi piston dari pad untuk mencegah bunyi pada saat pengereman
c) Caliper, sering disebut cylinder body, berfungsi untuk memegang pistonpiston dan dilengkapi dengan saluran minyak rem. Jenis-jenis rem cakram yang digunakan pada sepeda motor pada umumnya dibedakan berdasarkan jenis kalipernya, yaitu : a) tipe fixed caliper, dan b) tipe floating caliper.
d) Pipa/slang rem, merupakan saluran yang berfungsi menyalurkan tekanan hydraulic fluida dari master cylinder ke caliper
e) Minyak rem, merupakan fluida yang berfungsi sebagai media penerus gaya pengereman dalam bentuk tekanan hidrolis (hydraulic pressure) ke brake piston pada caliper
4) Pemeriksaan master silinder
Penekanan kopling yang menggunakan mekanisme hidrolik menggunakan master silinder. Master silinder berfungsi menekan fluida. Bekerjanya master silinder diperoleh dari penekanan pedal kopling oleh pengemudi. Dibanding dengan komponen kopling yang lain, master silinder lebih cenderung cepat rusak. Clutch master cylinder pada umumnyaberada didepan pedal kopling, ada yang berada di ruang pengemudi namun ada juga yang berada di ruang mesin depan, tergantung dari jenis kendaraan. Jumlah minyak pada recervoir harus selalu dijaga dalam jumlah yang cukup. Melepas master silinder dapat dilakukan dengan langkah–langkah sebagai berikut:
a) Lepaskan unit push rod dari unit pedal kopling dengan melepas pin penguncinya.
b) Lepaskan pipa minyak dari master cylinder
c) Lepaskan baut/ mur pengikat master cylinder ke body
d) Tarik keluar/ lepaskan master silinder.
Hal yang perlu diperhatikan dalam melepas master adalah karena minyak kopling merusak cat, maka berhati hatilah jangan sampai minyak koplingmengenai cat. Bawalah master cylinder dengan wadah atau bungkuslah dengan kain lap. Jika minyak kopling mengenai cat bersihkan dengan segera dan hati -hati dengan kain lap yang menyerap cairan. Setelah master cylinder berada di luar, bongkar lah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Tekan push rod maju/ ke dalam dan lepaskan snap ring dengan tang snap ring.
b) Tarik keluar push-rod
c) Keluarkan piston unit dengan udara bertekanan
d) Lakukan pembongkaran piston unit dengan meluruskan piston klip.
e) Lakukan pemeriksaan komponen-komponen yang sudah dibongkar, yang antara lain :Diameter master silinder, diamater piston, piston danseal, valve assembly dan pegas
Bagian-bagian master cylinder sebagaimana terlihat pada gambar di atas, yaitu :
a) Recevoir tank,
b) Snap ring,
c) Push rod,
d) Pistonand piston seal ,
e) Spring retainer ,
f) Compression spring,
g) Valve stopper,
h) Conical spring,.
i) Valve assembly.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengukuran serta dilakukan perbaikan maupun penggantian komponen yang tidak layak pakai maka pekerjaan selanjutnya adalah merangkai master cylinder unit. Langkah-langkah perakitannya adalah sebagai berikut :
1) Merangkai piston unit dan menguncinya dengan menekan dan membengkokkan klip piston
2) Memasukkan piston unit ke dalam silinder master dengan sebelumnya diberikan pelumasan dengan minyak kopling pada silinder, piston dan seal nya.
3) Pasangkan push-rod
4) Tekan push rod maju/ ke dalam dan pasangkan snap ring dengan tang snap ring
Setelah bagian-bagian master cylinder sudah terakit dengan baik, maka pasangkan master cylinder ke dudukannya dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Pasangkan master silinder ke dudukannya
2) Pasangkan baut pengikat master cylinder ke body
3) Pasangkan unit push-rod ke unit pedal kopling
4) Pasangkan pipa minyak ke master cylinder
B. Latihan/ tugas
1. Jelaskan konstruksi dan cara kerja dari sistem rem :hidrolik
2. Lakukan pengamatan secara cermat mekanisme rem hidrolik sepeda motor
3. Jelaskan tujuan pemeriksaan atau pengukuran komponen:
a) Plat cakram (Disc Brake)
b) Diameter silinder
c) Silinder califer
4. Apa penyebab master silinder tidak dapat bekerja memberikan tekanan fluida
5. Jelaskan Apa sebab minyak rem turun dari batas level meskipun tidak ada kebocoran




















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar