TUGAS 1
PROPOSAL TUGAS AKHIR (SKRIPSI)
MATA KULIAH PENULIASAN ILMIAH DAN SEMINAR
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd.

Disusun oleh :
NAMA: FERRI ANGGRIAWAN
NIM: 2017006073
KELAS: 7 A
PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA
2020
A. Judul
” Pengembangan Media Pembelajaran Trainer Kelistrikan Bodi Untuk Meningkatan Hasil Belajar Pemeliharaan Kelistrikan Sepeda Motor Siswa Kelas XI TBSM di SMK Tunas Wiyata Way Tuba”
B. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan pendewasaan peserta didik agar dapat mengembangkan bakat, potensi dan ketrampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu sudah seharusnya pendidikan didesain guna memberikan pemahaman serta meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara (Achmad Munib, 2004:34).
M. Ngalim Purwanto (2002:10) mengemukakan ”Pendidikan ialah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak anak dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat”.
Pada sistem pendidikan di Indonesia, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus adaptif, fleksibel, dan berwawasan global. Hal ini ditunjukan dengan selalu diperbaharuinya sistem kurikulum di sekolah yaitu perubahan
dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Menjadi K13 (kurikulum 2013). Hal-hal berkaitan dengan KTSP tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP RI) No. 19 Tahun 2005 Pasal 16 dan 17. PP RI No. 19 Tahun 2005 tersebut memiliki keterkaitan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) No.20 Tahun 2003. Dan (PP RI) No.3 tahun 2013 tentang standar pendidikan nasional.
Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu komponen yang patut dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia. Untuk mengantarkan pendidikan ke arah yang lebih baik dibutuhkan kerja keras dan kecermatan dalam mengambil kebijakan. Seperti di negara-negara maju, kuantitas SMK lebih banyak dibandingkan dengan SMU. Pendidikan kejuruan atau vokasional menjadi sasaran utama dalam pembangunan pendidikan. Dalam situs Kemendikbud dituliskan ”Saat ini program pemerintah dalam dunia pendidikan yaitu untuk SMK sebanyak 63% dan 37% untuk SMA dan untuk tahun 2014 akan ditingkatkan menjadi 70% SMK dan 30% SMA (http://www.smkngudo.sch.id/smk-news/73-kemendikbud-siswa-smk-bakallebih-banyak-.html)”. Perubahan jumlah sekolahan ini terpicu data yang diperoleh dilapangan bahwa pengangguran produktif kebanyakan berasal dari SMA. Pada jenjang SMK, siswa dituntut untuk menguasai skill serta diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. SMK dapat menghasilkan lulusan berkualitas dari segi ketrampilan kerja oleh karenanya pada jenjang SMK peserta didik lebih dibekali dengan ketrampilan sesuai jurusan yang diminati dan bakat yang dimiliki.
Hampir semua mata pelajaran produktif yang diajarkan di SMK Teknologi harus dilaksanakan dengan cara praktek secara langsung ke benda kerja untuk tujuan memberikan ketrampilan sebagai penerapan teori yang telah diajarkan sebelumnya. Dalam pelaksanaanya sangat banyak factor pendukung yang akan ikut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa Faktor pendukung tersebut antara lain berupa ketersediaan sarana dan prasarana praktek, kenyamanan belajar,lingkungan yang mendukung dan lain lain.
SMK Tunas Wiyata Way Tuba merupakan salah satu sekolah di kabupaten Way Kanan yang memiliki bernagi macam program keahlian salah satunya adalah jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor. Dalam jurusan TBSM n terdapat beberapa kompetensi keahlian yang harus dikuasai oleh peserta didik. Salah satunya adalah kelistrikan bodi pada Sepeda Motor. Instalasi sistem penerangan dan lampu-lampu tanda/isyarat pada kendaraan ringan seperti lampu tanda belok dan lampu tanda rem, merupakan perangkat penting dalam keselamatan berkendaran (Solikin.Muh, 2004: 15). Dalam arti lain bahasan sistem penerangan pada kendaraan tidak sekedar instalasi kelistrikan, tetapi juga bagaimana pencahayaannya sehingga akan memberikan kenyamanan berkendara di malam hari. Keadaan dan kelayakan dari instalasi tersebut bergantung pada bagaimana pengguna kendaraan memperhatikan pemeliharaan dan perawatannya.
Pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Otomotif dijelaskan secara spesifik kompetensi yang harus dikuasai secara baik oleh seorang mekanik otomotif, salah satunya kompetensi dalam hal sistem penerangan pada Sepeda Motor , yaitu kompetensi berkode PKSM 50-007B. Dari tujuh kompetensi yang harus dikuasai siswa pada semester gasal, nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas XI TBSM SMK Tunas Wiyata Way Tuba untuk PKsm 50-07B termasuk yang paling rendah, yakni 7,02 pada rentang nilai 0 - 10. Artinya masih ada beberapa siswa yang tidak kompeten karena nilainya < 7,0. Demikian halnya, kebanyakan siswa yang telah dinyatakan kompetenpun masih berpredikat cukup, karena nilainya ada pada kisaran 7,0. Kiranya hal ini terkait dengan media pembelajaran yang seadanya.
Table 1
Rerata nilai kompetensi PKSM 50-07B
|
NO |
Nilai Kompetensi/Predikat |
Jumlah |
Presentase |
|
1. |
< 7,00 ( TL /Tidak Lulus) |
12 |
30,77 |
|
2. |
7,00-7,99 (C/cukup) |
24 |
61,54 |
|
3. |
8,00 – 9,00 ( B / Baik ) |
3 |
7,69 |
|
4. |
> 9,00 ( AB / Amat Baik ) |
0 |
0 |
|
Jumlah |
39 |
100 |
|
Table 2
Posisi rerata nilai kompetensi PKSM
|
No |
Kompetensi |
Nilai Kompetensi |
||
|
Tertinggi |
Terendah |
Rerata |
||
|
1. |
PKSM 20-10B Pemeliharaan/servis pendingin dan komponen |
8,50 |
6,60 |
7,45 |
|
2. |
PKSM R 20-14B Pemeliharaan/ servis bahan bakar bensin |
8,60 |
6,70 |
7,54 |
|
3. |
PKSM 30-01B 30-01B Pemeliharaan servis kopling dan komponennya |
8,60 |
6,60 |
7,36 |
|
4. |
PKSM R 30-04B Pemeliharaan servis tranmisi manual |
8,50 |
6,50 |
7,52 |
|
5. |
PKSM pemeliharaan servis sistem rem |
8,20 |
6,60 |
7,42 |
|
6. |
PKSM 40-12B Pemerikasaan sistem suspense |
8,50 |
7,00 |
7,49 |
|
7. |
PKSM 50-07B Pemasangan sistem penerangan. |
8,10 |
6,20 |
7,02 |
Identifikasi masalah Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan di atas maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Media pembelajaran yang diterapkan belum sesuai dengan sasaran pembelajaran.
2. Model pembelajaran kurang menarik bagi siswa.
3. Terbatasnya peralatan sarana dan prasarana yang mendukung proses
4. Nilai siswa pada kompetensi berkode PKSM 50-007B belum mencapai standar KKM yang ditentukan.
Pembatasan Masalah Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi permasalahan pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan media alat peraga. Hal ini dikarenakan karena factor yang paling menonjol sebagai penyebab belum tercapainya nilai yang memenuhi KKM yaitu model pembelajaran yang tradisional dan monoton. Siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran jika metode pembelajaran yang dilakukan hanya ceramah saja, oleh karena itu peneliti ingin mengaplikasikan metode demonstrasi dan alat peraga untuk meningkatkan prestasi siswa dalam kompetensi berkode PKMR 50-007B. Pada kompetensi PKMR 50-007B memuat materi tentang instalasi sistem penerangan dan lampu-lampu tanda/isyarat pada sepeda motor seperti lampu tanda belok dan lampu kepala, merupakan perangkat penting dalam keselamatan berkendaran. Dalam materi ini seharusnya guru lebih banyak menggunakan metode demontrasi dengan menggunakan alat peraga sehingga siswa lebih mudah dalam pemahaman dan pengaplikasiannya.
Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana proses pengembangan media pembelajaran traine kelistrikan siswa Kelas XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.?
2. Bagaimana tahap pengembangan media pembelajaran trainer kelistrikan siswa Kelas XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.?
3. Bagaimana kelayakan media pembelajaran trainer kelistrikan siswa Kelas XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.?
4. Bagaimana hasil belajar sistem kelistrikan mobil siswa kelas XI TBSM SMK tunas wiyata way tubas setelah menggunakan menggunakan media pembelajaran trainer kelistrikan.
Tujuan Penelitian antara lain sebaga berikut:
1. Mendeskripsikan proses pengembangan media pembelajaran trainer kelistrikan siswa Kelas XI XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.
2. Mendeskripsikan tahap pengembangan media pembelajaran trainer kelistrikan siswa Kelas XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.
3. Mengetahui kelayakan media pembelajaran trainer kelistrikan siswa Kelas XI SMK Tunas wiyata Way Tuba.
4. Mengetahui peningkatan hasil belajar sistem kelistrikan mobil siswa kelas XI TBSM SMK Tunas Wiyata Way Tuba setelah menggunakan menggunakan media pembelajaran trainer kelistrikan.
Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan akan memberikan manfaat bagi siswa, guru dan sekolah.
1. Bagi Siswa
Penggunaan media pembelajaran memotivasi dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Pemahaman siswa optimal akan meningkatkan prestasi belajar.
2. Bagi Guru.
a) Pengembangan media pembelajaran akan membantu guru dalam kegiatan pembelajaran dan meningkatkan pemahaman siswa.
b) Penggunaan media pembelajaran dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman baru tentang model pembelajaran yang inovatif. Guru dapat meningkatkan kompetensinya dengan memilih dan menyajikan materi, memilih dan menggunakan media, serta menciptakan iklim pembelajaran.
3. Bagi Sekolah.
Dapat memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah terutama untuk jurusan teknik kendaraan kendaraan ringan sebagai salah satu yang dapat digunakan membantu memperlancar proses pembelajaran.
C. Landasan Teori
1. Belajar dan Mengajar
a. Pengertian Belajar
Menurut Djamarah (2011:12) mengatakan bahwa “belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Lebih lanjut menurut Howard L. Kingskey dalam Djamarah (2011:13) mengatakan Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Menurut Hamalik (2015: 27) belajar berupakan modifikasi datau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Berdasarkan pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan buka suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan,bukan hanya mengingat tetapi mengalami dan lebih mengutamakan perubahan perilaku baik pengetahuan, latihan dan sikap yang merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Jadi, belajar merupakan perubahan perilaku seseorang baik pengetahuan, latihan (praktik) maupun sikap yang merupakan akibat interaksi seseorang dengan lingkungannya
2. Pembelajaran
Menurut Huda (2015 : 5), pembelajaran dapat diartikan sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan levelnya.
Sedangkan Gagne dan Briggs (1979) yang dikutip oleh Badarudin (2010:9) menyebutkan pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi danmendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Berikut ini beberapa konsep mengenai pembelajaran yang sering menjadi fokus riset dan studi yaitu (1) Pembelajaran bersifat psikologis. Pembelajaran dideskripsikan dengan merujuk pada apa yang terjadi dalam diri manusia secara psikologis. Ketika pola perilakunya stabil, maka proses pembelajaran yang dikatakan berhasil. (2) Pembelajaran merupakan proses interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
3. Media pembelajaran
Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2013:3) menyatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi sehingga siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap.
Pendapat lain tentang media antara lain AECT memberi batasan tentang media sebagai sela bentuk dan saluran yang 17 digunakan untuk menyampaikan pesan. Heinich mengemukakan istilah medium sebagai perantara pengantar informasi antara sumber dan penerima. Gagne dan Briggs (1975) mengatakan media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran (Arsyad, 2011 : 4).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian yang lebih luas media pembelajaran 18 adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajaran dalam proses pembelajaran di kelas.
4. Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar Menurut Purwanto (2011:45) menyatakan hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.. Sedangkan menurut Djamarah (2015:21) menyatakan bahwa belajar: “Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian, belajar dikatakan berhasil bila telah terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya, bila tidak terjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar dikatakan tidak berhasil”.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan oleh penulis bahwa pengertian prestasi belajar adalah sebuah hasil usaha maksimal yang telah dicapai dari mempelajari pengetahuan yang 23 dapat diamati dengan merubah tingkah laku oleh individu atau seseorang dan berhasil baik serta memuaskan setelah menjalani pendidikan dalam kurun waktu tertentu.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Prestasi atau hasil yang diperoleh seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor baik yang berasal dari dalam diri seseorang maupun dari luar diri orang tersebut. Menurut Slameto (2010: 54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. FAKTOR PSIkologis, kelelahan, skolah,masyarakat,
5. Kelistrikan
Menurut Sayin menjelaskan “Sistem kelistrikan mobil adalah bagian yang penting karena pada sistem inilah sumber tenaga penggerak berasal” (Sayin 2000: 5). Arus listrik dari sistem kelistrikan akan menimbulkan bunga api pada busi dimana bunga api tersebut merupakan syarat utama yang harus ada pada motor bensin. Penerangan pada mobil juga berasal dari sistem kelistrikan. Dan masih banyak komponen lain yang bekerjanya menggunakan arus listrik seperti pompa bensin elektric, motor stater, motor wiper dan sebagainya. Sistem kelistrikan body berfungsi untuk membantu pengendara untuk menjalankan kendaraan dengan aman dan nyaman pada segala medan. Sistem ini terdiri dari : a. Sistem penerangan berfungsi memberikan penerangan jalan yang akan dilalui pengendara saat menjalankan kendaraan pada malam hari atau cuaca yang gelap. b. Sistem tanda belok berfungsi memberi isyarat pada pengendara lain bahwa kendaraan akan berbelok. c. Sistem indicator, d.sistem pengisian, e. system pengapian, dll
D. METODOLOGI
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and
Development). Research and development adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan
produk tersebut (Sugiyono, 2015 : 407). Adapun alur penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
|
a. Potensi dan masalah b. Mengumpulkan Informasi c. Desain Produk d. Validasi Desain |
e. Perbaikan Desain f. Uji Coba Produk g. Revisi Produk h. Pemakaian produk |
Populasi dan Sampel. opulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2012: 117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI jurusan TBSM SMK tunas wiyata way tuba sebanyak 2 kelas dengan jumlah siswa 64 orang. Teknik sampling yang digunakan simple random sampling dengan memilih 2 kelas diantara 2 kelas terpilih kelas XI TSM A sebagai kelas eksperimen dan XI TSM B sebagai kelas kontrol.
a. Pengumpulan Data
1. Tes Tes
digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi siswa terhadap materi yang dipelajari. Bentuk tes dalam penelitian adalah soal pilihan ganda dengan 5 pilihan sebanyak 20 butir. Tes ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar kelistrikan
b. Angket Angket
dalam penelitian ini terdiri dari angket untuk ahli media dan materi sebagai data validitas produk. Hasil dari validitas ahli media dan ahli materi digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk revisi produk agar produk yang dihasilkan layak digunakan sebagai media pembelajaran
1. Instrumen Penelitian
1. Tes
2. Angket
a. Instrumen untuk ahli media
Pada instrumen ahli media berisikan poin tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan media pembelajaran.
b. Angket untuk ahli materi
Pada instrumen ahli materi berisikan poin tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan materi media pembelajaran. meliputi sahih, tingkat kepentingan, manfaat, pembelajaran dan minat.
Uji Coba Instrumen
1. Analisis Butir Instrumen
a. Taraf Kesukaran
Menurut Arikunto (2012: 222) bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,0 sampai dengan 1,0. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah. Rumus mencari indeks kesukaran:
P =…..
Dimana:
P : indeks kesukaran
B : banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Soal dengan P 0,00 – 0,30 adalah soal sukar 55
2. Soal dengan P 0,31 – 0,70 adalah soal sedang
3. Soal dengan P 0,71 – 1,00 adalah soal mudah
b. Daya pembeda
Menurut Arikunto (2012: 226) daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah). Untuk mengukur daya pembeda suatu soal menggunakan rumus sebagai berikut:
D
= ![]()
2. Analisis intrumen
a. Validitas
Menurut Arikunto (2010: 211) pengertian validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Untuk menentukan validitas soal digunakan rumus product moment correlation.
b. Reliablitas
Menurut Arikunto (2010: 221) reliabilitas menunjukkan suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena alat instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu.
1. Teknik anlisis data
Jenis data penelitian ini adalah menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif, kemudian data dianalisis secara statistik deskriptif. Menurut Sugiono (2010: 29) statistik deskriptif adalah teknik statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tampa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Data kualitatif digunakan untuk menganalisis data nontes yang dapat diperoleh dari ahli materi maupun ahli media terhadap media pembelajaran sistem kelistrikan. Sedngkan Dalam analisis ini data kuantitatif diperoleh dari skor angka dan kemudian dimasukan dalam tabel statistik dari penilaian ahli materi, ahli media, hasil angket dan tes.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pengembangan ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses pembuatan media pembelajaran sistem berupa trainer kelistrikan dan berdasarkan analisis masalah dan disesuaikan denga kebutuhan sehingga diharapkan membentuk suatu media yang siap pakai
2. Tahap pengembangan media pembelajaran trainer kelistrikan pada siswa Kelas XI TBSM SMK Tunas Wiyata telah meliputi pencarian potensi masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi desain, perbaikan desain, uji coba produk, pengujian produk, uji coba pemakaian dan revisi produk.
3. Hasil validasi produk oleh ahli materi maupun ahli media, uji coba kelompok kecil dan uji coba pemakaian produk menunjukkan produk layak digunakan sebagai media pembelajaran.
4. Hasil uji beda membuktikan bahwa media pembelajaran yang dibuat efektif untuk meningkatkan prestasi belajar (thitung = 5,131 dan p=0,000) Media pembelajaran dapat digunakan dalam pembelajaran sebagai media untuk meningkatkan hasil belajar karena dalam ujicoba kelompok besar dengan jumlah siswa 40 orang dibuktikan memiliki rata-rata prestasi belajar 82,63 lebih tinggi daripada rata-rata kelas kontrol 73,00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar