BIODIESEL
Disusun untuk Memenuhi
Matakuliah Sistem Bahan Bakar Otomotif
yang Dibimbing oleh:
Bapak
Rabiman, M.Pd.
Oleh:
Ferri Anggriawan 2017006073
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SARJANAWIYATA TAMANSISWA
2020
Kata Pengantar
Puji syukur
kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat serta hidayah-Nya, makalah
sederhana ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah sederhana ini dibuat untuk memenuhi tugas
matakuliah Sistem
Bahan Bakar Otomotif, semester keenam yang dibimbing oleh Bapak
Rabiman,M.Pd. Program Studi S1 Pendidikan
Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas FKIP, Universitas Sarjanawiyata
Tamansiswa. Selain itu, karya tulis ini
juga bermanfaat, dimana dengan adanya makalah sederhana ini kami dapat mengembangkan dan
melatih kemampuan menulis kami, dapat juga mengetahui lebih dalam tentang Bio
Diesel.
Makalah
sederhana ini diselesaikan masih jauh dari sempurna dengan keterbatasan ilmu
pengetahuan yang dimiliki penulis, maka penulis menerima kritik dan saran dari
pembaca untuk perbaikan penulisan Makalah berikutnya.
LAMPUNG, 28 Juni 2020
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah .................................................................... 2
1.3
Tujuan........................................................................................ 2
1.4
Manfaat...................................................................................... 2
BAB
II ISI
2.2
Pembahasan ............................................................................ 4
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan ............................................................................. 15
3.2
Saran ...................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA ............................................................................. 16
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia dikenal dunia memiliki sumber
daya alam (SDA) yang melimpah, terutama minyak bumi dan gas alam. Hal ini yang
menjadikan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam jumlah yang
besar untuk kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia termasuk negara penyumbang
minyak terbesar di dunia oleh karena itu hal ini dikhawatirkan berdampak kepada
sumber daya alam tersebut, dimana kita ketahui SDA minyak bumi dan gas alam adalah
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan lama-kelamaan akan habis di
gali. Kemungkinan Indonesia kehilangan SDA tersebut sangat besar, sehingga
menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang sekarang ini saja sudah terasa
dampaknya, dengan kelangkaan minyak tanah, dan harga minyak dunia yang semakin
tinggi.
Oleh karena itu harus dilakukan
sebuah gagasan untuk melakukan balancing antara permintaan dan produksi
energi oleh negara, salah satunya dengan mencari sumber energi alternatif lain
yang lebih ekonomis, ramah lingkungan dan bersifat renewable. Hal ini
mengingatkan kita akan ketersediaan sumber tanaman penghasil minyak nabati yang
banyak ditemukan di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku
pembuatan biodesel.
Biodiesel adalah energi
yang terbarukan, yang tidak pernah habis selagi masih tersedia bahan bakunya
dan merupakan energi yang ramah lingkungan, karena tidak memngandung SO2
dan PbO2 sehingga mampu mengeliminasi emisi gas buang. Biodiesel
sudah banyak dikenal di Negara asing khususnya negara-negara bukan pengimpor
minyak. Pada negara tersebut biodiesel
sudah diproduksi dan digunakan dalam skala komersial. Namun di Indonesia belum
terdorong untuk memanfaatkan biodiesel untuk skala komersial. Dalam makalah ini
akan dibahas tentang apa tu biodiesel, perkembangannya di Indonesia, serta
contoh teknologi Biodiesel yang ada di Indonesia.
Gambar persediaan dan kebutuhan pemakaian minyak
bumi
Ini mendorong diperlukannya alternative untuk
menghemat penggunaan minyak bumi
2.1.Rumusan
Masalah
1.2.1
Apa Biodiesel itu?
1.2.2
Bagaimana perkembangan
Biodiesel di Indonesia?
1.2.3
Apa contoh teknologi
Biodiesel di Indonesia?
1.2.4
Apa keunggulan dan
kelemahan penggunaan Biodiesel?
1.3 Tujuan
1.3.1. Untuk
mengetahui pengertian Biodiesel.
1.3.2. Untuk
mengetahui perkembangan Biodiesel di Indonesia.
1.3.3. Untuk
mengetahui contoh teknologi Biodiesel di Indonesia.
1.3.4. Untuk
mengetahui keunggulan dan kelemahan penggunaan
Biodiesel.
1.4 Manfaat
1.4.1.
Bagi masyarakat, makalah ini bisa digunakan untuk
menambah wawasan dan pengetahuan tentang Biodiesel.
1.4.2. Bagi
lingkungan, makalah ini bisa digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil
sebagai sumber energy utama.
1.4.3. Bagi
penulis, melatih kemampuan ,menulis dan keterampilan dalam membuat karya
ilmiah.
BAB
II
ISI
2.1 Pengertian
Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang
terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang
dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari
sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan. Biodiesel disebut juga sebagai bahan bakar alternatif yang
dihasilkan dari bahan baku yang terbarukan, selain dari bahan baku minyak bumi.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan
untuk mengubah minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam
lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak sayur langsung,
biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar) dari
minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih
sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan
bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas.
Biodiesel adalah
bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat seperti minyak diesel atau
solar. Sebelum biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar, biodiesel ini
harus diproses lagi untuk menurunkan kekentalannya. Selain itu tangki bensin
juga harus dilakukan perubahan agar biodiesel ini dapat berfungsi dengan baik
sebagai bahan bakar pada kendaraan tersebut.
Namun jika kendaraan sudah bermesin diesel, maka bahan bakar biodiesel
ini sudah dapat langsung digunakan. Secara sederhana biodiesel didefinisikan
sebagai bentuk bahan bakar diesel yang menyebabkan lebih sedikit kerusakan
lingkungan dibandingkan bahan bakar diesel standar. Biodiesel biasanya dibuat
dari minyak nabati melalui proses kimia yang disebut transesterifikasi.
2.2 Perkembangan
Biodiesel di Indonesia
Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung
pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan
minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju
produksi rata-rata 500 juta barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis
dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan
memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan
pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.
Pemilihan
biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku.
Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di
Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah crude palm oil
(CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar
(Jathropa Curcas) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.
Indonesia adalah
penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan produksi CPO
sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO terbesar di
dunia pada tahun 2012. Dengan mempertimbangkan aspek kelimpahan bahan baku,
teknologi pembuatan, dan independensi Indonesia terhadap energi diesel, maka
selayaknya potensi pengembangan biodiesel merupakan potensi pengembangan
biodiesel sebagai suatu alternatif yang dapat dengan cepat diimplementasikan.
Walaupun
pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pengembangan
biodiesel, pemerintah tetap bergerak
pelan dan juga berhati-hati dalam mengimplementasikan hukum pendukung
bagi produksi biodiesel. Pemerintah memberikan subsidi bagi biodiesel,
bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang sama dengan bahan bakar fosil,
padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi bahan bakar fosil. Hal
ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang dibutuhkan.
Sampai saat
ini, payung hukum yang sudah disediakan
oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun
Peraturan Perundang-undangan lainny, adalah sebagai berikut:
1. Peraturan
Presiden No. 5/2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional
2.
Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang Pengadaaan dan
Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif
3. Dektrit
Presiden No. 10/2006 tentang Pembentukan team nasional untuk Pengembangan
Biofuel
Peraturan
Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan
pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksakan selama 25
tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005.
Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan biodiesel. Pada
fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2%
atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak
nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa sawit.
Fasa kedua
(2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi telah digunakan
tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala
komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 – 100.000 ton per tahun. Produksi
tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta
kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 – 2025), teknologi yang ada diharapkan telah
mencapai level ‘high performance’ dimana produk yang dihasilkan memiliki angka
setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan
dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo
liter. Selain itu juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan
dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal
ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan
bakar nabati. (Rahayu, 2006)
Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat
industri besar yang memproduksi biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton
per hari. Industri-industri tersebut adalah PT Eterindo Wahanatama (120.000
ton/tahun – umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000 ton/tahun – dengan RBD
Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun – umpan beragam),
Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan mentah), PT Bakrie
Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000 ton/tahun).
Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan
total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT
Energi Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.
Peluang untuk
mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup besar,
mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan BBM
untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah
sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya
karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga
disebabkan kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman
yang dapat dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan
jarak pagar. Pada saat ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin
di Jakarta dan 12 pom bensin di Surabaya.
Grafik Produksi dan rencana produksi CPO
Persebaran
produksi biodiesel di Indonesia
2.3 Contoh
teknologi Biodiesel di Indonesia
Di Indonesia
banyak tumbuh tanaman
penghasil minyak nabati yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku
pembuatan biodesel. Dari sekian banyak tanaman, dimakalah ini akan dibahas
pembuatan biodiesel dari tanaman jarak dan juga pemanfaatan minyak jelantah.
1. Pemanfaatan
tanaman jarak sebagai bahan pembuatan biodiesel
Tanaman jarak pagar merupakan salah satu tumbuhan yang
dapat digunakan untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Sumber energi yang
dihasilkan dari tanaman ini berupa biodiesel yang berguna untuk menggantikan
fungsi solar pada mesin diesel. Saat
ini pemerintah tengah mencanangkan program penggunaan minyak jarak pagar (Jathropa
Curcas) sebagai pengganti minyak solar secara nasional.
Minyak dari tanaman jarak pagar termasuk minyak lemak. Biodiesel merupakan bahan bakar yang berpotensi
menggantikan solar, karena berasal
dari tumbuh-tumbuhan. Potensi terbesar tanaman Jarak Pagar terdapat pada buah
yang terdiri dari biji dan cangkang (kulit). Pada biji terdapat inti biji dan
kulit biji. Inti biji ini yang menjadi bahan dasar pembuatan biodiesel, sumber
energi pengganti solar. Setelah melalui proses pemerahan, dari inti biji akan
dihasilkan bungkil perahan, yang kemudian diekstraksi. Hasilnya berupa minyak
Jarak Pagar dan bungkil ekstraksi. Minyak jarak pagar digunakan untuk
penyabunan dengan hasil akhir berupa sabun dan metanolisis/etanolisis yang
kemudian diproses menjadi biodiesel dan gliserin.
Minyak yang dihasilkan dari biji Jarak Pagar termasuk
dalam minyak lemak (fatty oil). Minyak ini berwujud cairan bening
berwarna kuning dan tidak menjadi keruh meski disimpan dalam waktu yang lama. Minyak Jarak Pagar bisa digunakan untuk berbagai
keperluan. Pertama, melalui thermal atau catalytic cracking akan dihasilkan
gas, gasoline, kerosin dan diesel, yang dapat digunakan untuk berbagai
keperluan. Kedua, melalui esterifikasi transesterifikasi akan dihasilkan produk
berupa biodiesel yang digunakan untuk pembangkit genset, kendaraan diesel dan
kompor jarak pagar.
Cara pembuatan Biodiesel dari Pohon Jarak cukup mudah, untuk menghasilkan minyak dalam skala kecil (0,5 - 0,6 ton
perawatan hari) cukup dengan mengepres biji jarak yang sudah kering menggunakan
mesin diesel satu silinder, sehingga menghasilkan minyak jarak kasardan
bungkil.
Tahap selanjutnya adalah menyaring menggunakan mesin
penyaring sehingga dihasilkan minyak jarak bersih. Kemudian dilakukan proses
pemurnian terhadap minyak jarak yang sudah bersih sampai menghasilkan minyak
jarak murni yang siap dijual.
Biodiesel yang diperoleh dari tanaman jarak berupa minyak
jarak yang diperoleh dari biji jarak. Biodiesel yang dihasilkan dari tanaman Jarak Pagar
merupakan minyak lemak semimulus (semi refined fatty oil), yang telah
dibersihkan dari fosfor dan asam-asam lemak. Dalam hal ini fosfor merupakan zat
yang merugikan karena mesin diesel dapat mengubah fosfor ini menjadi garam atau
asam fosfat yang mengendap menjadi kerak di dalam kamar pembakaran atau terbawa
keluar sebagai pencemar udara oleh emisi gas buang.
Gambar Alur Produksi Biodiesel Jarak
Pagar
Gambar pohon Jarak Pagar
Gambar Produk Biodiesel dengan Bahan
Baku Jarak Pagar
2. Pemanfaatan
jelantah sebagai bahan pembuatan biodiesel
Minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa
berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak
sayur, minyak samin dan sebagainya, minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian
kebutuhan rumah tangga umumnya, dapat di gunakan kembali untuk keperluaran
kuliner akan tetapi bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah
mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama
proses penggorengan. Jadi jelas bahwa pemakaian minyak jelantah yang
berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker, dan
akibat selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi berikutnya. Untuk itu
perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat
dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan,
kegunaan lain dari minyak jelantah adalah bahan bakar biodiesel.
Menurut
BPPT, limbah minyak goreng (waste of vegetable oil) memiliki potensi sebagai
alternatif energi bahan bakar nabati bisa menurunkan 100% emisi gas buangan
Sulfur dan CO2 serta CO sampai dengan 50%, dan sekaligus mampu mengurangi
pencemaran air, tanah, dan udara. Minyak jelantah berdampak positif daripada
dibuang, karena minyak jelantah dapat mencemari lingkungan. Lebih parahnya,
jika terjadi penggunaan lebih dari dua kali, maka minyak jelantah ini dapat
menyebabkan penyakit kanker. Penyakit hipertensi dan kolesterol juga dapat
terjadi akibat kandungan asam lemak jenuh yang tinggi dari minyak jelantah. Untuk
itu perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat
bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan
lingkungan, kegunaan lain dari minyak jelantah adalah bahan bakar biodiesel
Minyak
jelantah sendiri memiliki kadar karbondioksida yang seimbang sehingga memiliki
kemungkinan kecil resiko meledak, walaupun ketika pembakaran tidak terkendali,
api bisa langsung membesar. Namun, menurut BPPT, minyak jelantah dapat meledak
jika suhunya mencapai lebih dari 300 derajat Celcius. Diharapkan BPPT,
teknologi baru ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat nantinya di tengah
kelangkaan elpiji dan harga minyak tanah yang melambung.
Adapun
secara teknis tahapan dan langkah-langkah produksi (resep) pembuatan biodiesel
minyak jelantah adalah sebagai berikut :
1) Bahan
pelarut (metoxida) dibuat dengan mencampurkan 900 ml methanol dan 21 gram NaOH hingga
larut selama 15 menit.
2) Campurkan
metoxida ke dalam ember berisi 3 liter minyak jelantah dan aduk memakai sendok
plastik selama 30 menit atau campuran sudah rata.
3)
Biarkan 4-12 jam sampai terjadi pengendapan.
4) Pengendapan
ditandai dengan dua lapisan berbeda warna dengan lapisan gelap berada di bawah
yang disebut crude gliserin, sedangkan lapisan atas berwarna bening, crude BD.
5) Pisahkan
crude biodiesel dari crude gliserin lalu masukkan ke ember untuk dicuci dengan
cara mencampurkan air bersih sebanyak dua liter.
6) Pompakan
udara melalui pompa udara akuarium dan biarkan beberapa saat sehingga muncul
warna putih susu.
7) Pisahkan
crude biodiesel yang berwarna kuning dengan air warna putih melalui selang
8) Biodiesel
yang telah bening dimasukkan ke panci lalu panaskan hingga 100 derajat beberapa
menit agar air dan sisa methanol menguap.
9) Biodiesel
yang telah dipanaskan dan didinginkan dapat langsung dipergunakan untuk mobil
maupun mesin diesel industri.
Biodiesel
minyak jelantah ini telah digunakan di bogor oleh angkutan umum trans pakuan,
biodiesel minyak jelantah ini hasil dari uji coba yang dilakukan oleh Dr.
Erliza Hambali beserta rekannya dalam organisasi Surfactant & Bioenergy
Research Center (SRBC), dan masih kurang sosialiasai kepada masyarakat luas
tentang ini, jadi perlu peran pihak ketiga sebagai sarana untuk
mensosialisaikan biodiesel ini, agar pemakaian BBM fosil dapat diatasi, dan
menjaga ketersedian SDA di Indonesia.
Gambar Alur Biodiesel Minyak Jelantah
2.4 Keunggulan
dan kelemahan penggunaan Biodiesel
Semua produk
pasti memiliki kelebihan dan juga diimbangi dengan kekurangan. Begitu pula
dengan biodiesel yang memiliki kelebihan
dan kekurangan. Berikut akan disebutkan kelebihan dan kekurangan dari
penggunaan biodiesel itu sendiri.
Kelebihan:
a. Bahan
bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free
sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global.
b. Cetane
number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan
dengan minyak kasar.
c. Memiliki
sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable).
d. Merupakan
renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui.
e. Meningkatkan
independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara local.
f. Titik
kilat tinggi, yakni temperatur tertinggi yang dapat menyebabkan uap biodiesel
dapat menyala. Sehingga, biodiesel lebih aman dari bahaya kebakaran.
g. Tidak
mengandung belerang dan benzena yang mempunyai sifat karsinogen, serta dapat
diuraikan secara alami. Sehingga ramah lingkungan.
h. Dilihat
dari segi pelumasan mesin, biodiesel lebih baik daripada solar sehingga
pemakaian biodiesel dapat memperpanjang umur pakai mesin.
i.
Dapat dengan mudah
dicampur dengan solar biasa dalam berbagai komposisi dan tidak memerlukan
modifikasi mesin apapun.
j.
Dan masih banyak
sebagainya.
Kekurangan:
a.
Memberikan emisi oksida nitrogen lebih lanjut
(emisi Nitrogen oksida dari campuran biodiesel mungkin bisa dikurangi dengan
pencampuran dengan minyak tanah atau Fischer-Tropsch diesel).
b. Transportasi
& penyimpanan
biodiesel memerlukan manajemen khusus.
c. Biodiesel
karena sifatnya, tidak dapat diangkut dalam pipa. Ini harus diangkut dengan truk atau
kereta api, yang meningkatkan biaya.
d. Biodiesel kurang cocok untuk digunakan dalam suhu rendah, dari petrodiesel.
Pada suhu
rendah, bahan bakar diesel membentuk kristal lilin, yang dapat menyumbat
saluran bahan bakar dan filter dalam sistem bahan bakar kendaraan. Kendaraan
berjalan pada campuran biodiesel karena itu mungkin menunjukkan masalah
drivability lebih kurang suhu musim dingin yang parah daripada kendaraan
berjalan pada minyak solar.
e.
Properti
pelarut biodiesel juga dapat menyebabkan bahan bakar lainnya-sistem masalah. Biodiesel mungkin tidak kompatibel dengan segel yang digunakan dalam
sistem bahan bakar kendaraan yang lebih tua dan mesin, memerlukan
penggantian bagian-bagian jika campuran biodiesel digunakan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Biodiesel merupakan sumber energi alternatif yang ramah
lingkungan, karena sisa pembakaran mesin yang menggunakan biodiesel
menghasilkan emisi gas buang, asap dan partikel yang lebih rendah daripada
solar. Perkembangan biodiesel di Indonesia sudah cukup diupayakan bahkan sudah
ada peraturan perundang-undangan. Hanya saja memerlukan kerjasama antara
pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan biodiesel sebagai bahan bakar
pengganti solar dengan memaksimalkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan.
Banyak bahan yang bisa digunakan untuk biodiesel, diantaranya yaitu tanaman
jarak pagar, minyak jelantah, dan lain sebagainya.
3.2 Saran
Untuk mengurangi
angka ketergantungan masyarakat terhadap sumber energi yang berasal dari sumber
daya alam tidak dapat diperbarui, maka alangkah baiknya bila pemerintah
mendukung serta memproduksi sumber energi biodiesel sehingga dapat berguna bagi
masyarakat luas. Masyarakat juga harus mendukung program ini untuk memperoleh
manfaat yang maksimal. Selain itu penggunaan biodiesel juga bisa menyelamatkan
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Syamtori, Stanley. 2008. Biodiesel di
Indonesia. Online Tersedia: http://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/
[24 April 2015]
Anonim.-. Cara
Membuat Biodiesel dari Buah Jarak Pagar.
Online Tersedia: http://ponorogozone.com/umum-zone/cara-membuat-minyak-jarak/
[24 April 2015]
Anonim. 2008. Biodiesel dari Tanaman
Jarak Sebagai Energi Alternatif Pengganti Solar. Online Tersedia: http://gbioscience05.wordpress.com/2008/04/20/biodiesel-dari-tanaman-jarak-sebagai-energi-alternatif-pengganti-solar/
[24 April 2015]
Ridhotulloh,
D. M. 2008. Jangan Buang Minyak Jelantah. Online Tersedia: http://www.inilah.com.[24 April 2015]
Wawicaksono. 2007. Bahan Bakar Minyak Jelantah, Kabar Gembira Buat Lingkungan
Hidup. Online Tersedia: http//www.beritahabitat.net.
[24 April 2015]